Satu tahun bersama Daendels dari Anyer sampai Panarukan

Snapshot_20150111_7

Awalnya, aku benar-benar malas membaca buku ini. Bahkan kemarin sempat bilang ke teman: “Kayaknya aku nggak sanggup baca karyanya Pram, deh. Berat banget.” Tapi, pada akhirnya, aku baca juga! Yeay! Satu hari yang panjang dari Anyer sampai Panarukan. Sebenarnya, aku cuma asal comot dari perpustakaan sekolah dan mendapati nama Pramoedya dengan bukunya yang hanya berjumlah 145 halaman mentereng di antara buku-buku tebal lainnya. Aku memproklamirkan *halah* sebagai fansnya setelah membaca karyanya yang fenomenal di dunia sastra, tetralogi Buru, Minke (Bahkan sampai saat ini aku belum bisa move on dari pria itu), dan karyanya yang lain, seperti Gadis Pantai.

Kembali ke buku ini, JALAN RAYA POS, JALAN DAENDELS. Ini bukan novel, aku peringatkan dari awal. Buku ini termasuk dalam kategori esai dan narasi yang diterbitkan oleh Lentera Dipantara pada tahun 2005. Yang benar-benar kental dengan yang namanya sejarah (tunggu, tapi memang semua karya Pram itu berbau sejarah, kan?).

Dari judulnya saja sudah jelas, akan seperti apa buku ini membawa pembacanya berkelana ke masa silam. Yup, betul sekali, esai ini tentang Daendels. Tentang Gubernur Jendral yang diutus secara langsung dari Belanda ke Hindia Belanda (satu-satunya yang langsung dari sana dari 71 Gubernur yang ada) oleh kerajaan Belanda yang dipimpin Louis Napoleon (dalam Prancis) atau Lodewijk Napoleon (dalam Belanda)—merasa tidak asing ‘kan dengan nama belakang dari raja Belanda di masa itu? Lagi-lagi, ini fakta baru bagiku (dan barangkali untuk kalian yang tidak terlalu mengacuhkan sejarah), Louis Napolion adalah adik dari Napoleon Bonaparte (seorang revolusioner Prancis)—yang merupakan raja kerajaan Belanda di bawah Prancis.

Sang Maarschalk en Gouverneur General van Indie ini, yang diagungkan di Hindia sebagai pengalas dasar perombakan-perombakan di Hindia, penggalang Jalan Raya Pos yang takkan pernah lepas dari namanya, ternyata sejak paroh kedua abad lalu semakin lama dimunculkan sebagai tokoh kontroversial. Ia juga digambarkan sebagai seorang yang berhati baja sekaligus berkepala dingin, tak punya kekuatan untuk menghadapi argumentasi, baik atau buruk, benar atau salah, dan langsung mengancam dengan bentakan akan menembak mati lawan berargumentasi. Ia seorang pengagum Napoleon, dan ia bayangkan dirinya sebagai Napoleon kecil. (Halaman 16).

Namanya tentu sudah tersohor sejak kita duduk di bangku SD (pertama kali aku kenal namanya saat aku kelas lima, begitu juga dengan adikku), Pram sendiri mengenal nama Jenderal besar itu semasa beliau SD di Instituut Boedi Oetomo atau biasa disingkat IBO (Ada di halaman pertama buku ini). Tapi, sayangnya, pelajaran tentang ini terlalu minim di sekolah. Hanya sekilas yang guru kenalkan pada kita. Paling hanya serentet kata tentang pembangunan—padahal sebenarnya beliau memperlebar—jalan raya sepanjang Anyer sampai Panarukan dengan menggunakan tenaga dari kerjapaksa rakyat Indonesia yang kemudian tewas karena kekurangan makanan dan medan yang terlalu berat. Sudah. Begitu saja. Tidak ada yang lain-lain. Tapi, ah ya, ini seingatku saja. Yang pada dasarnya hanya dapat satu jam mata pelajaran sejarah di kelas dengan guru yang menyebalkan *ups*.

Gubernur Jenderal ini ganas kejam, hingga terkenal dengan sebutan Jenderal Guntur, Tuan Besar Guntur, Mas Guntur, Marsekal Besi, bahkan di Jawa Barat disebut Mas Galak. (Halaman 130).

Intinya begitu. Aku banyak mendapatkan wawasan setelah membaca buku ini. Dari yang awalnya cukup buta akan sejarah di negeri ini, mataku jadi sedikit melek. Dari yang awalnya berkomentar “sadis,” pada Daendels, kini ada kesalutan, kekaguman, dan simpati yang terselip setelah merampungkan buku ini.

Kenapa salut dan kagum? Karena, bisa saja, kalau bukan beliau yang memulai untuk memperlebar jalan raya, apakah mungkin, jalan raya yang melintang sana-sini selebar 7 meter akan ada di suatu masa yang kini anak cucu dari pekerjapaksa itu menikmatinya? Dan jujur saja, kota yang aku tinggali saat ini, adalah salah satu penikmat jalan selebar 7 meter itu—sebuah kota kecil di antara Tegal dan Pekalongan (dan tadi, aku bersama adikku yang kelas 5 SD, menduga-duga, mana jalan yang menghabiskan banyak nyawa itu, kira-kira jalan yang bagian Pantura atau jalan yang lewat kota. Tapi toh, intinya, jalan yang ada di depan desa saya termasuk jalan itu, karena jalan tersebut termasuk jalan selebar 7 meter yang jika lurus terus akan sampai di kali Comal dan berlanjut ke Pekalongan—yang disebutkan di dalam buku ini). Selain itu, menurut pendapatku sendiri, perjuangan Daendels dalam satu tahun ini patut diacungi jempol.

Untuk jamannya, “membangun” jalan raya sepanjang itu dalam setahun saja (1808) sungguh prestasi besar, karena itu juga namanya mendunia. (Halaman 130). Pram saja mengakui semua ini sebagai prestasi besar dari Daendels.

Dibalik keganasannya, ada sebuah komitmen yang begitu kuat, obsesi, juga impian yang begitu besar—tentu saja untuk negara dan kepentingannya sendiri. Sejahat-jahatnya manusia, pastilah ia memiliki sisi kebaikan meskipun hanya sekecil kerikil. Beliau tidak mundur di saat para korban terus bertambah setiap harinya, ia tetep keukeuh dengan pendiriannya, meskipun itu harus mengorbankan rasa kemanusiaannya (dan aku sendiri bertanya, bagaimana beliau bisa? Terkadang, saat menghadapi sebuah kesulitan, aku juga ingin seperti itu. Menghilangkan perasaan, walau sesaat).

Tapi,tetap saja, ada 12.000 (bisa lebih, bisa kurang. Karena sebenarnya belum ada penelitian yang serius dari dulu sampai sekarang. Ini pun Pram ambil dari berita Inggris) pekerja yang pada akhirnya tewas di sepanjang 1000 km dari Anyer sampai Panarukan dalam kurun waktu yang cukup singkat, 1808-1809, satu tahun. Benar-benar peristiwa genosida secara tidak langsung yang mengerikan. Aku saja ngeri. Belum lagi, mayat mereka sebagian besar tidak terurus, sebagian dibiarkan begitu saja di jalanan, sebagian lagi dibuang ke laut, ada juga yang dimakamkan dengan cukup layak. Itulah alasan mengapa aku berkomentar “sadis” padanya.

Dan lewat buku ini, Pramoedya Ananta Toer menuturkan sisi paling keras dari genosida pembangunan jalan raya yang beraspalkan darah dan airmata manusia-manusia Republik tersebut. Ribuan mayat tercecer di jalan-jalan. (halaman 6).

Lalu, kenapa simpati? Bukannya Daendels sendiri seorang yang begitu kejam dan tidak punya rasa kemanusiaan? Aku nggak tahu. Rasa itu muncul begitu saja. Aku kasihan sama beliau, juga pada orang-orang yang ‘hilang arah’ saat kekuasaan mulai menguasai. Belakangan aku menyadari, saat kekuasaan menguasai, ada sifat-sifat yang secara tidak sadar memberikan kita pilihan; yaitu sifat tamak, licik, semena-mena, puas diri, dan lain-lainnya, atau gampangnya seven deadly sins, kita jadikan musuh, atau malah sahabat. Dan Daendels, memilih sifat-sifat itu sebagai sahabatnya. Pada akhirnya, ia hilang arah. Hidup dalam dunianya sendiri dan melupakan satu hal penting; bahwa kekuasaan tidak akan bersifat abadi kecuali milik Tuhan.

Dan ya, dia dibenci oleh banyak orang. Bahkan oleh negaranya sendiri. Sembilan tahun setelah tugasnya ditarik oleh Louis Napoleon dari Hindia Belanda, beliau meninggal dalam keadaan terasing dan kesepian. Bahkan, sampai tahun 1991, di 4 kota terbesar di Belanda hanya ada satu jalan umum yang menggunakan namanya. Barangkali itulah yang membuatku simpati pada pemimpin besar seperti beliau.

Itu hanya garis besarnya saja. Ada banyak hal lain yang tersembunyi di buku ini. Pram menuturkannya dengan apik, seperti menuntun kita ke masa silam dan menemani kita berjalan-jalan dari Anyer sampai Panarukan lewat Jalan Daendels yang fenomenal itu. Kita akan diajak mengunjungi satu persatu daerah dengan rute yang runtut, lalu membagikan cerita tentang daerah tersebut secara mendetail dengan pengetahuannya yang luas. Bahkan, sesekali, kita akan diajak ‘mengintip’ bagaimana ia menjalani kehidupannya di sana, bagaimana pelariannya menjadi seorang tahanan saat orde baru, dan berbagai pengalaman lainnya yang ia lewati. Untuk sumbernya sendiri, tercantum dari halaman 142 sampai 145. Beliau mengambilnya dari wawancara, buku, jurnal, surat kabar, serta ensiklopedi dengan tahun paling tua adalah 1810—itu yang diketahui, ada beberapa yang tidak diketahui. Itu sudah jelas, bukan, betapa besarnya dedikasi Pramoedya Ananta Noer pada dunia sastra?

Sayangnya ada beberapa hal yang membuatku kecewa. Berat, malah. Bukan tentang bagaimana Pramoedya bercerita, melainkan tentang percetakan yang membuatku setengah gila saking penasarannya. Ada halaman yang kosong, tanpa tulisan satu huruf pun. Cukup banyak, lagi. Berikut halaman yang kosong melompong: 82, 83, 86, 87, 90, 91, 94, 95. Jadi, apakah semua buku memang dicetak kosong seperti buku yang aku baca, atau, kebetulan aku yang dapat sial dan dibikin penasaran sama kekosongan itu?

Aku berharap, uraian di atas tidak terlalu spoiler dan bikin kalian yang membaca ini jadi ikutan membaca. Dan mari, kita berdiskusi tentang Daendels atau pun penulis buku ini sendiri! Atau, barangkali Minke? Haha.

Nilai untuk buku ini sendiri, aku beri 4.5 bintang. Coba kalau halamannya penuh semua, aku kasih 5!

Dan ngomong-ngomong, kok aku jadi penasaran dengan buku Max Havelaar karya Edward Douwes Dekker atau Multatuli, ya? adakah yang sudah baca?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s