Pada Rumah Kaca

RUMAH KACA

Raden Mas Minke

Jacques Pangemanann

Seumur-umur, belum pernah aku merasakan kehilangan yang begitu besar pada seseorang di suatu cerita. Pada Raden Mas Minke, untuk kali pertamanya aku bisa menangis sampai tersedu karena benar-benar merasa kehilangan beliau, di sebuah buku, di sebuah cerita yang visualnya hanya yang membaca sepenuh hati yang bisa membayangkannya.

Aku sering sekali membaca novel dengan tema sad ending, atau bahkan semua cerita berisi mengenai suatu hal yang serba sedih-sedih melulu. Tapi, sekalipun aku belum pernah menangis. Disaat teman-temanku yang lain setelah membacanya akan bilang, “Aih! Sumpah keren banget! Bikin galau! Nyampe nangis kejer nih bacanya! Kamu harus baca, deh.”

Dan aku membacanya, lalu pada akhirnya, aku hanya akan berkomentar, “Selesai! Eh, ceritanya gini ya? Ooh, keren.” Tutup buku, buka buku yang lain. Besok paginya sudah lupa nama tokohnya siapa. (Aku memang tipe-tipe pembaca yang bisa saja mudah melupakan dalam jangka pendek tapi setelah beberapa waktu akan mengingatnya kembali, lalu melupakannya lagi).

Tapi, untuk yang tetralogi ini (Oh man! Aku baru baca dua buku terakhirnya! Dua buku awalnya, aku pasrah) ada kesan yang sangat berbeda yang aku dapat setelah buku tertutup dan aku hanya menatap linglung pada sampul belakangnya. Dan detik selanjutnya, aku menangis. Menangis. Menangis. Menangis. Sejak kapan coba, aku baca buku bisa menangis? Ajaib! Baru kali ini!

Aku mencaci maki, menyumpah serapahi pada siapapun yang aku benci di cerita tersebut, menyayangkan tindakan yang seharusnya tidak dilakukan menurut pandanganku, menahan napas sampai rasanya perut setengah kali lebih kecil dari ukuran biasanya. Aku…, tidak rela. Begitulah singkatnya.

Kemudian timbul pertanyaan dalam benakku untuk diri sendiri, “Sebenarnya, apa yang membuatmu nggak rela? Di bagian mananya? Pada siapa ketidakrelaan itu kamu tunjukkan?” jawabnya, aku nggak tahu. Apa mungkin, ketidakrelaanku ini karena aku terlalu sayang pada sosok karakter yang benar-benar hidup, pada semua bagian aku tidak merelakan apa yang akan terjadi selanjutnya, pada tokoh A, B, C, dan lain-lainnya, atau malah pada penulisnya sendiri, aku merasa tidak rela? dunno. Itu masih jadi teka-teki tersendiri buatku.

Aku juga tidak tahu, sebenarnya aku menangis untuk siapa. Aku kasihan pada siapa. Aku sayang pada siapa. Aku marah pada siapa. Aku kecewa pada siapa. Apa untuk tokoh ini, tokoh itu, negara ini, negara itu, peradaban ini, peradaban itu, kekejaman ini, kekejaman itu. Aku nggak tahu. Intinya, saat di bagian ini aku menangis, di bagian itu aku mencaci, di bagian yang lain aku merasa begitu simpatik, di bagian yang lain lagi aku sangat menyayangkan kejadian yang seperti itu, dan di bagian yang lainnya lagi aku marah sampai rasanya pingin lempar buku setebal 600an halaman itu pada apa saja yang dapat dikenakannya.

Yang jelas, belum pernah aku merasakan sesuatu yang sampai serumit ini setelah aku membaca buku. Dan ini, terjadi secara berkala. Maksudku, begini. buku ini merupakan tetralogi, ada 4 judul berbeda yang isinya saling berkaitan satu sama lain. Sementara itu, aku langsung membaca dua buku yang terakhir. Buku ketiga dan buku keempat. Keduanya aku baca dalam waktu yang berjauhan. Sangat berjauhan. Ada empat bulan yang merenggangkan keduanya. Di antara empat bulan itu, aku sisipi dengan bacaan-bacaan berat lainnya, masih novel, masih dengan genre yang sama. Tapi, percayalah, rasanya aku baru membaca buku ketiganya kemarin, lalu langsung dilanjutkan oleh buku yang keempatnya tanpa jeda. Tanpa renggang waktu. Tanpa novel-novel sastra lain yang menyisipi. Dan begitulah, aku masih merasakannya, aku masih mengenangnya dengan apik padahal memoriku untuk mengingat adalah nol besar.

Intinya, begitulah yang ingin aku sampaikan. Memang tidak jelas. Memang bahasanya belibet dan bertele-tele. Aku sengaja. Biar kalian yang membaca ini (kalau ada) juga akan ikut penasaran dan ikut membaca novel ini.

Dan ya, aku tidak tahu akan sampai kapan aku mengenang R.M. Minke, tapi yang jelas, selama aku ingat, aku akan mengenangnya.

RK

Aku telan rasa penasaranku, pada apa yang terjadi dengan Siti Soendari, Marco, Prinses Kasiruta, dan tentunya Jacques Pangemanann setelah itu, dan aku ganti penasaran itu dengan rasa kepahitan yang keluar dengan sendirinya. Kehilangan yang belum pernah terasa, pada sesosok fiksi atau bukan, aku tidak peduli. Dan yang terjadi, tangis itu mewakili apa yang aku rasa.

RK 535

06/02/2015

Dian Aulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s