Desember dan Tangisannya

Hai. Apa kabar?

Tahu-tahu Desember sudah mau berakhir. Hujan semakin kerap mengguyur Bumi. Pagi, siang, sore, malam, bisa kapan saja. Pesanku: jangan lupakan jemuran pakaiannya, ya! jangan seperti aku yang malah kelupaan buat ngambil jemuran, ya sudah, akhirnya kehujanan. Yang seharusnya sudah kering jadi basah lagi. Ya nggak apa-apa, nanti juga kering lagi.

Aku suka bulan Desember. Dua alasan utamanya adalah; Desember merupakan bulan kelahiranku dan hujan semakin sering terjadi di bulan ini.

Entah apa yang aku suka dari hujan. Aku biasa saja pada bau tanah ketika hujan pertama jatuh—yang katanya orang-orang suka. Mungkin aku lebih suka pada bunyinya, mendengar suaranya ketika tetes demi tetes air mengetuk atap rumah-rumah, atau jalanan beraspal, tanah, pasir, tumbuhan. Atau mungkin pada bentuknya ketika ia baru mendarat pada tanah, jalan, atau kubangan air yang sudah tercipta sebelumnya.

Ada perasaan yang selalu menelusup tiap bunyi rintik hujan terdengar. Hanya saja, kali ini rasanya beda, meskipun ya sebenarnya tetap sama. Selalu ada kenangan dalam hujan. Nggak. Aku nggak menamainya ‘baper’ atau ‘galau’ atau apapun seperti orang-orang menamainya. Menurutku ini lebih kompleks dari pada itu.

Anggap aku orang yang melankolis, atau apalah terserah.

Satu hal yang tidak bisa aku hindari ketika hujan mulai mengguyur adalah pikiranku tidak fokus, tapi juga sedang tidak melamun. Aku sendiri bingung bagaimana menggambarkan situasi seperti apa yang aku alami ketika hujan turun. Mungkin akan lebih tepat jika aku menamainya sebagai ‘momen Autis’. Ah, sebelumnya, aku barusaja searching di google mengenai momen Autis, hasilnya kebanyakan merujuk pada novel Lalita yang dikarang oleh Ayu Utami—dan sepertinya istilah tersebut merupakan ciptaan dari Ayu Utami sendiri. Dan memang, aku meminjam istilah momen ini dari momen yang dialami oleh Sandi Yuda di novel Lalita. Momen yang nggak jauh beda dari apa yang aku alami ketika hujan turun.

Aku tidak sadar sekaligus sadar dengan apa yang aku lakukan ketika hujan turun. Pikiranku ke sini dan ke situ. Kadang malah aku merasa, bahwa hujan telah menyusutkan waktu dan demikian dengan Bumi yang dibuatnya menyusut juga. Dibuatnya pandanganku mengabur, pun pada pendengaranku. Aku sendiri. Bersama Hujan. Nggak ada yang lain. Tapi disisi lain aku juga tahu, bahwa semua itu tidak benar.

Sewaktu masih di rumah, aku menikmati hujan bersama keluarga. Kami berdesakan di pintu, aku, adikku, dan bapakku. Berdiri, entah untuk berapa lama. Menatapi hujan, menunggunya menyapa tanah dan kemudian mengalir bersama kawan-kawannya yang telah sampai lebih dulu. Ah, atau barangkali bukan sedang menatapi hujan, melainkan tengah menatapi momen-momen yang telah lalu? Entah.

Aku yakin, kami bertiga sedang mengalami ‘momen autis’.

Lalu ketika dirasa mulai sesak, satu persatu pergi, mencari tempat yang lain. Aku yang terakhir pergi. Menutup pintu. Tentu setelah diingatkan.

Hingga hujan di Desember ini. Aku menikmati hujan dengan cara yang sama, namun sekaligus berbeda.

Kemarin aku hanya berdiam diri di pinggir jendela sendiri, menikmati tetes-tetes hujan itu sendiri, tidak ada yang bikin sesak, tidak ada yang mengganggu ‘momen Autis’ku, tidak ada yang mengingatkanku untuk menyudahi ‘momen’ itu.

Kadang, hal yang menjengkelkan jadi paling mudah untuk diingat. Dan dirindukan.

 

P.S : Aku sudah menulis tulisan ini sejak dua minggu yang lalu dan baru keingat hari ini.

Desember, 25.

Dian Aulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s