Memikirkan Pikiran

1de6e6122fc0c67944959dbe5f1e4145
Pinterest, Jenny Yu.

Terkadang, saya memikirkan sesuatu yang agak sulit untuk dijelaskan oleh diri saya sendiri. Ketika menyadari apa yang telah saya pikirkan, hal pertama yang digumamkan oleh pikiran saya adalah, “Kenapa sampai mikir ke sana?”

Bisa jadi, saya belum tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh badan yang saya tumpangi ini. Karena dengan pikiran-pikiran yang muncul dadakan itu, mereka memberitahu saya sesuatu yang sebenarnya tubuh ini ingin lakukan. Ah, bisa jadi.

Dan saya yakin, bukan hanya saya saja yang mengalami hal demikian. Kalian pun pasti pernah mengalaminya, atau bahkan mungkin setiap hari mengalaminya. Bisa jadi ketika hendak tidur, menanti mata terpejam, dan pikiran berkejaran dalam kepala. Atau, sembari menanti guru masuk kelas dan memulai sesi perkuliahannya, tanpa sadar pikiran ini sudah berpindah tempat tanpa seizin kita.

Seorang teman, beberapa waktu yang lalu, berkisah pada saya mengenai sesuatu yang ada dalam isi kepalanya. Mengutarakan hidup dan pikirannya yang terjadi belakangan ini. Saya paham. Karena saya pun mengalaminya. Semua orang mengalaminya. Menyikapinya saja yang berbeda. Beberapa orang tidak mengacuhkannya dan hanya menganggapnya angin lalu saja. Sebagian lain seperti saya dan teman saya, melanjutkan pikiran yang awalnya tidak sengaja itu menjadi sesuatu yang serius.

Saya tidak tahu dari mana asal-muasal pikiran semacam itu. Tiba-tiba muncul begitu saja. Mungkin karena pengaruh dari lingkungan dan orang-orang yang memiliki pemikiran yang berbeda pula. Toh, bisa jadi setelah mendengar ujaran orang yang tak sengaja terdengar oleh telinga kita, besoknya tanpa sadar kita jadi ikut memikirkannya juga.

Ah, sudah lah. Tulisan ini rupanya mencerminkan jalan pikiran saya yang tidak ada kejelasannya ini. Runyam. Bertele-tele. Tidak punya fokus. Entah apa intinya. Pembelaan saya: Kan, sudah dibilang, sering kali saya tidak bisa mendeskripsikan apa yang sebenarnya sedang saya pikirkan. Kali ini pun demikian.

Sudah, sudah. Saya mau mengerjakan tugas dari dosen dulu. Ah! Tiba-tiba saya punya pikiran baru lagi, praduga untuk semua tulisan tidak jelas ini. Barangkali, saya menulis ini karena sedang ingin mangkir dari tugas. Bisa jadi, berpikir dan menulis seperti ini adalah bagian dari pelarian yang saya lakukan untuk menggarap tugas Inti dari Filsafat Matematika. Atau, saking pusingnya saya mengenai tugas tersebut, pikiran saya jadi terbentur-bentur menjadi tidak jelas seperti ini?

Duh, duh.

Tahu lagi apa yang baru saja saya pikirkan?

Bahwa manusia selalu memiliki alasan untuk berkelit dari sesuatu yang tidak diinginkannya. Iya, dan yang sedang tidak ingin saya lakukan adalah mengerjakan tugas. Yang saya lakukan saat ini tidak lebihnya dari membuang waktu untuk sesuatu yang tidak jelas.

Cukup, saya rasa sudah cukup dengan semua ketidakjelasan ini. Saya minta maaf karena telah mencuri waktu berharga kalian untuk membaca tulisan ini.

 

Tabik dariku, berbulan Oktober bertanggal 16.

Dian Aulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s