Perlambatan Bumi dalam The Age of Miracles

age-of-miracles

Judul                 : Yang Pernah Ada

Judul Asli         : The Age of Miracles

Penulis             : Karen Thompson Walker

Penerjemah    : Cindy Kristanto

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit   : Juni 2013

Tebal                 : 344 Halaman

ISBN                  : 9789792294187

“Pada 6 Oktober, para ahli mengumumkan. Ada perubahan, kata mereka, perlambatan, dan itulah istilah yang dipakai sejak saat itu: perlambatan.” Hal. 10

“Tidak ada gambar untuk ditayangkan di televisi, tidak ada gedung yang terbakar atau jembatan yang runtuh, tidak ada besi yang terpuntir atau bumi yang hangus, tidak ada rumah yang meluncur dari fondasi. Tak ada yang terluka. Tidak ada yang meninggal. Awalnya, ini bencana yang tidak kelihatan.” Hal. 19.

Julia adalah gadis cilik berusia 11 tahun yang tinggal di California, negara bagian yang sudah terbiasa dengan pergerakan Bumi. Setidaknya, orang-orang di sana telah siap dengan trotoar yang dapat tiba-tiba merekah, kolam renang yang kadang bergolak seperti air di mangkuk, terlatih untuk merangkak ke kolong meja saat gempa, dan tahu harus berhati-hati dengan serpihan kaca yang berhamburan. Tetapi, bagaimana jika yang terjadi adalah Rotasi Bumi yang mulai melambat? Gravitasi yang berubah? Medan magnet yang mulai menghilang? Radiasi Matahari yang mengerikan?

Tidak ada yang mengira bahwa hal-hal semacam itu akan terjadi. Mereka tidak langsung menyadari bahwa hari-hari mereka terus bertambah hingga menjadi 30 jam, 48 jam, bahkan 70 jam dalam satu hari. Berbagai kalangan menyampaikan pandangannya, mulai dari ilmuan yang melakukan bermacam-macam penelitian hingga para pendeta yang mulai mengingatkan akan datangnya hari kiamat yang semakin dekat.

Tinggal bersama Ibunya dan Ayahnya, Julia merupakan gadis yang melalui hari-harinya dengan biasa-biasa saja. Namun, begitu perlambatan itu terjadi, ia mulai berpikir bahwa kehidupannya pun ikut berubah. Karena perlambatan, ia harus berpisah dengan Hanna, temannya satu-satunya, yang memutuskan untuk pindah ke Utah bersama keluarganya dan bergabung dengan Kaum Mormon lainnya, bersiap untuk akhir zaman. Hubungan orangtuanya pun terancam kandas karena Ayahnya yang kedapatan selingkuh dengan Sylvia, tetangganya yang menjadi penganut Jam Sebenarnya dan pernah menjadi guru les pianonya. Lalu, kisahnya dengan Seth Moreno, laki-laki yang merupakan cinta pertamanya, untuk yang satu ini, perlambatan bisa jadi membantunya untuk dekat dengan Seth Moreno, tapi pada akhirnya, ia pun harus merelakan cinta pertamanya itu pergi.

“Kita sudah meracuni planet dan makhluk hidup di dalamnya selama bertahun-tahun. Dan sekarang akhirnya kita menanggung akibatnya.” Hal. 95

Berbagai masalah pun terjadi akibat adanya perlambatan. Burung-burung yang kehilangan rotasinya hingga berjatuhan dan mati, ikan-ikan yang mendamparkan dirinya di pesisir pantai dan berakhir menjadi bangkai, penyaki-penyakit baru yang diberi nama penyakit gravitasi. Alasannya sama, perlambatan membuat gravitasi melambat yang mengganggu keseimbangan sehingga membuat metabolisme kacau. Hewan-hewan kehilangan navigasinya, manusia harus beradaptasi dengan pukul 3 dini hari sementara matahari sedang terik-teriknya, atau pukul 12 siang namun matahari baru terbenam.

“Bumi masih berputar dan jam masih berdetik, tetapi mereka sekarang menunjukkan waktu yang berbeda. Dalam seminggu, tengah malam tidak lagi datang pada saat gelap di malam hari. Jam mungkin menunjukkan angka 9 pagi di tengah hari. Jam 12 siang kadang berada di saat matahari terbenam.” Hal. 87.

Pemerintah akhirnya membuat keputusan setelah berbagai kekacauan terjadi dengan menetapkan penggunaan waktu 24 jam, bukan berdasarkan lamanya siang dan malam. Hal itu menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, sebagian dari mereka lebih memilih untuk menggunakan jam sebenarnya meskipun dalam satu hari bisa mencapai 50 jam.

Karen dengan detil menjelaskan berbagai akibat yang terjadi setelah adanya perlambatan. Pelan namun pasti, perlambatan menganggu psikis manusia. Baik mereka yang menjadi penganut Jam Waktu dan Jam Sebenarnya sama-sama tidak tahu kapan tepatnya dunia akan berakhir dan kiamat terjadi. Siapa yang tidak takut dengan hal-hal semacam itu? Di antara mereka bahkan muncul sekte bunuh diri dan koloni-koloni lainnya. Yang pasti, buah-buahan dan sayuran semakin susah didapatkan, pemerintah bisa tiba-tiba mematikan listrik dalam waktu yang lama untuk menghemat energi, bahkan mematikan server komputer, email, dan berbagai situs lainnya yang membuat mereka harus kembali hidup tanpa adanya bantuan teknologi.

Membaca buku ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang mengenai keberlangsungan hidup manusia dan Bumi ini, pun mengingatkan kita untuk tetap bersyukur pada yang telah memberi kita kehidupan. Terkadang, kita dengan tidak pedulinya suka berbuat semena-mena tanpa memikirkan apa efek jangka panjangnya. Kita bisa saja berpikiran bahwa nantinya teknologi akan terus berkembang. Tapi, siapa yang tahu dengan keadaan Bumi ke depan?

“Masih mengherankan bagiku betapa sedikitnya yang benar-benar kita ketahui… Kita dapat memproduksi kulit, mengkloning domba. Bisa membuat jantung orang yang sudah meninggal memompa darah melalui tubuh orang tidak dikenal… Kita menunjukkan segala bentuk keajaiban… Namun, yang tidak diketahui tetap lebih daripada yang kita ketahui.” Hal 330-331.

Bagusnya, membaca buku ini tentunya dapat menambah pengetahuan baru kita khususnya dengan ilmu-ilmu alam. Terlebih pada yang menyukai bacaan dengan tema science-fiction, buku ini sangat cocok untuk kalian. Gravitasi, medan magnet, radiasi, badai matahari, dan lain sebagainya, kalian dapat menemukannya di buku ini.

Mengenai para tokoh, Karen, dan penulis-penulis luar kebanyakan, mahir dalam memberikan gambaran para tokohnya. Masing-masing karakter memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada Keluarga Julia dengan Ibunya yang mudah panik dan Ayahnya yang selalu berpikir rasional, Sylvia yang tetap kukuh dengan pendiriannya menjadi penganut jam sebenarnya, dan Seth Moreno yang suka berandai-andai dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Bersama merekalah Julia hidup, menjalani hari-harinya yang biasa-biasa saja, dan berusaha untuk bergerak maju sedapat mungkin.

Sayangnya, alur cerita yang dinarasikan oleh Julia terasa begitu lambat dan datar. Mungkin karena karakter Julia yang lebih pendiam dan masih sangat muda untuk menghadapi masalah seberat ini? Entahlah. Padahal, bisa saja Karen menambahi berbagai ‘ide gila’ dalam imajinasinya untuk menjawab berbagai pertanyaan seperti salah satunya; “Apa penyebab rotasi Bumi mendadak melambat?” Namun rupanya penulis lebih memilih untuk mengembalikan jawaban tersebut ke persepsi masing-masing pembaca. Pun dengan kelangsungan Bumi setelahnya, bisa saja akan terus menerus seperti itu, kembali seperti sedia kala, atau seperti apa yang para pendeta bilang: kiamat.

Tapi, yang jelas, The Age of Miracles ini merupakan buku debut Karen Thomson Walker dan mendapat tanggapan serta penghargaan sebagai salah satu Buku Terbaik 2012 versi Publishers Weekly, O: The Oprah Magazine, People, Kirkus Reviews, dan Booklist.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s