Mengemas Peristiwa: Al dan Ra (4)

/4/

Maret, 5

Selamat pagi, Al. Hari minggu ini barangkali kamu sedang mengurung diri di kamar, membaca Lima Sekawan miliknya Enid Blyton yang sengaja saya taruh di perpustakaan rumahmu untuk kamu selami kisahnya. Sudah berapa buku yang kamu baca hingga hari ini, Al? Berkabarlah pada saya, Lima Sekawan terlalu seru untuk ditinggal begitu saja tanpa didiskusikan. Kendati saya lupa judul mana saja yang telah saya baca dan bagaimana ceritanya, mendengarmu berkisah tentang George dan kawanannya saya rasa akan menarik. Tiap kepala memiliki sudut pandangnya sendiri, pun demikian denganmu.

Agak menyimpang sebenarnya dari bahasan Lima Sekawan, Al. Yang tadi saya anggap sebagai selingan saja. Ada hal yang ingin saya tanyakan pada umurmu yang kini sudah 10 tahun lebih tiga bulan ini. Pendek saja.

Apa passionmu?

Maksudnya begini, pada hal apa kamu menaruh ketertarikan yang begitu besar hingga rasanya mau sesulit apapun, kamu ingin tetap melakukannya?

Begini, Al. Satu pekan lalu, saya berbincang sebentar pada seseorang yang menaruh perhatian pada seni teater. Ia seorang pelajar yang memperjuangkan keinginannya meskipun ditentang oleh banyak pihak, hanya segelintir orang saja yang mau membantu; yakni orang-orang yang menaruh minat seperti dirinya. Ia rela mengumpulkan sampah lantas dijual pada pengepul sampah untuk mendapatkan uang. Uangnya lantas ia gunakan untuk menata tempat pementasan teater yang dipimpinnya itu.

Ketika ditanya manfaat apa yang diperoleh dari berteater, dengan mantap ia berujar begini pada saya: “Teater itu realita kehidupan yang dipentaskan dalam panggung. Mempelajari teater itu sama halnya dengan mempelajari kehidupan. Kita telah menghidupi orang hidup di sana.”

Bukan hanya pelajar itu saja yang saya temui, Al. Duduk di sudut bangku penonton, seorang lelaki berkisar 50-60 tahun dengan kopiyah yang menutup sebagian rambut putihnya, tampak begitu menikmati jalannya cerita yang dipentaskan. Ia tampak tersipu begitu saya dekati dan tanyai darimana asalnya. “Ah, jauh tempat tinggal saya. Dari kampung,” jawabnya canggung.

Saya tanyai lagi, mengapa jauh-jauh datang kemari untuk menonton sebuah pentas drama yang bahkan didanai dengan dana pas-pasan. Terangnya, ia sering menonton teater yang dipentaskan oleh junior-juniornya, jauh atau dekat, hanya karena ia ingin dan suka. Ia bahkan mengaku bahwa ia masih sering ikut bermain menjadi lakon dalam suatu pertunjukan.

Mendengar mereka, hati saya seperti disiram air es. Secara terselubung, mereka telah membuat saya berpikir ulang apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup ini. Dengan cara masing-masing, mereka bahagia dengan apa yang mereka lakukan. Mereka habiskan waktunya dengan sesuatu yang benar-benar mereka inginkan.

Tidak seperti saya, yang asal lompat sana lompat sini. Coba, lakukan, tidak suka, tinggal. Sebuah siklus yang terus terjadi tanpa henti, entah bahagia entah tidak. Sampai-sampai saya bingung sendiri bila mendapat pertanyaan apa passion-mu.

Maka, Al. Cobalah gali apa keinginanmu sejak sekarang. Jangan seperti saya yang apa-apa maunya dicoba semua tapi tidak ada yang maksimal. Ah, agaknya hidup saya terdengar begitu miris ya, Al? Haha, tidak seperti itu juga. Setelah dipikir betul-betul, saya cukup bahagia dengan hidup saya saat ini. Saya menyukai ketika saya mulai tertarik pada suatu hal dan mencobanya. Barangkali passion saya adalah belajar di segala bidang. Bisa jadi begitu, Al.

Sudah, sudah. Lanjutkan lagi bacaanmu mengenai Lima Sekawan dan ceritakan ulang pada saya. Maaf menganggumu dan semoga Minggu-mu menyenangkan. Salam untuk kedua orangtuamu.

Tabik, Ra Abraham Sumitra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s