Etnis Tionghoa pada Kancing yang Terlepas

Judul                  : Kancing yang Terlepas

Penulis              : Handry TM

Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : Juni 2011

Tebal                  : 456 Halaman

ISBN                   : 9786020301013

Memilih setting waktu pada tahun 1961, buku ini memulai kisahnya dengan Tek Siang yang merupakan salah seorang terpandang di Gang Pinggir pada masanya. Dialah si pemilik Orkes Cina Tjahaya Timoer, dengan Giok Hong sebagai primadonanya. Tanpanya, Gang Pinggir hanyalah tempat sepi padat penduduk tanpa musik Cina yang menjadi penghibur.

Bersama Tek Siang, Giok Hong hidup sejak berusia belasan tahun tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Sejak kecil, Tek Siang melatihnya dengan sabar hingga membentuknya menjadi seorang perempuan yang jadi primadona hingga dianggap sebagai titisan Makjouw Poo, Dewi Laut yang menjaga pantai dari badai dan gelombang besar.

Tidak sedikit laki-laki yang berakhir takluk pada pesona Giok Hong, salah satunya adalah Oen Kiat, si saudagar kaya yang dulunya merupakan sahabat dekat Tek Siang. Karena perempuan, dua sahabat itu berbalik menjadi lawan yang saling bersaing untuk mendapatkan Giok Hong.

Awalnya, konflik berputar di antara tiga orang itu. Kebimbangan Giok Hong dalam menentukan pilihan membuat alur cerita jadi menarik untuk diikuti. Toh, pada akhirnya, dengan penuh lika-liku, Giok Hong berhasil lepas dari dua orang penting di Gang Pinggir tersebut dan menjalani kehidupnya sendiri. Mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain hingga mengubah jati dirinya.

Nama Giok Hong berangsur hilang dalam Gang Pinggir setelah satu tahun kepergiannya. Tidak ada lagi orkes Cina yang tampil di sana karena Tek Siang sudah tidak menaruh minat lagi menjalankan Perkoempoelan Tjahaya Timoer tanpa primadonanya.

Lalu, seseorang bernama Boenga Lily datang ke Gang Pinggir untuk mendaftar pekerjaan di rumah makan Tan Kong Gie yang kala itu tengah berkembang pesat di kawasan Pecinan tersebut. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Tan mempekerjakan Boenga Lily yang memiliki rupa elok dan suara emas. Diyakini, Boenga Lily merupakan Giok Hong yang telah menghilang selama satu tahun, namun kembali dengan wajah dan nama yang berbeda. Sekaligus dengan misi rahasia yang diembannya.

Tentu tidak sedikit buku di Indonesia yang mengangkat tema politik era orde lama hingga orde baru. Mereka yang jadi kaum tertindas akan mendapat sorot utama dalam jalannya cerita. Begitupun dengan novel karangan Handry TM ini. Masih tentang Indonesia, namun bedanya, Handry mengambil dari sudut pandang yang berbeda, ia berikan sorot utama tersebut kepada etnis Tionghoa sebagai minoritas di Tanah Air.

“Kenapa angin riboet dipiara, wahai Toean Panglima?! Kenapa badai kaboet digiring lemboet, wahai para andjing kota?! Lapaaar… lapaaarrrr, siapa di antara kalian mengirim ransoem oentoek rakjat di sini? Lapaaarrrr…”

“Siapa soeroeh kami tinggal di negeri ini, siapa soeroeh kami lahir terpaksa di tanah betjek ini? Pergiii… pergiii!”

Begitulah Timoer Laut, seorang pemain rebab Cina menyampaikan protesnya lewat syair yang ia teriakkan di tengah jalan hingga membuatnya berakhir di penjara dan disiksa oleh para aparat negara.

 “Meski kecil, kami tidak takut mati, asal memang tidak bersalah. Kalau terbukti melakukan kesalahan, kami tidak malu-malu meminta maaf.” Halaman 344.

Penggambaran mengenai mencekamnya politik kala itu cukup digambarkan oleh Handry lewat dialog-dialog para tokoh atau pun dengan narasinya yang sederhana namun kaya makna.

“Kerajaan yang kecil bukan berarti lemah. Kalau rakyatnya kuat, akan dengan mudah menangkis serangan. Apalagi menyerang kerajaan besar namun tidak kuat.” Halaman 337.

Meski bukan keturunan Tionghoa, Handry mampu menghidupkan bagaimana seorang Tionghoa menjalani hidupnya. Tepatnya di Semarang, hiduplah kehiruk-pikukan Gang Pinggir, di sanalah cerita ini berpusat. Beberapa penjelasan mengenai kebudayaan Tionghoa seperti pandangan mereka terhadap leluhur, kepercayaan mereka pada dewa-dewi, dan perayaan imlek pun tak luput Handry sisipkan untuk memperkuat jalannya cerita. Pun julukan mengenai mereka yang selalu giat dalam berbisnis dan perhitungan dalam untung-rugi tergambar jelas dalam beberapa tokoh seperti Tek Siang dan Oen Kiat.

Sayangnya, alur cerita jadi terasa seperti terpotong-potong. Meski sudah dijelaskan secara singkat mendekati akhir buku, kepergiaan Giok Hong yang lenyap hingga satu tahun lantas mengubah diri menjadi Boenga Lily mengundang banyak pertanyaan. Seperti, kemana Giok Hong mengembara hingga satu tahun lamanya? Kondisi seperti apa yang dihadapinya hingga wajah beserta suaranya berubah? Apa motif sebenarnya sampai ia kembali lagi ke Gang Pinggir? Belum lagi, sifatnya yang awalnya lugu dan manis tiba-tiba berubah menjadi perempuan picik yang menyebalkan. Karena yang terakhir itu, saya jadi bimbang menentukan apakah Boenga Lily dan Giok Hong adalah orang yang sama. Apa yang melatarbelakangi semua itu?

Penulis seolah merahasiakan beberapa hal mengenai kehidupan Giok Hong ataupun Boenga Lily kepada pembaca, dan masih tidak mau memberikan jawaban hingga halaman terakhir.

Ah, meski begitu, secara keseluruhan, buku ini cukup menarik untuk diikuti. Terutama bagi kalian yang ingin membaca buku dengan etnis Tionghoa sebagai sorot utama cerita.  []

23/3/2017.

Dian Aulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s