Mengemas Peristiwa: Al dan Ra (5)

April, 20

April rupanya menggiring saya pada jalan-jalan berkerikil yang harus dilalui dengan sangat hati-hati, Al. Beberapa hal saling terangkai menjadi satu kesatuan dan nyaris merenggut kewarasan saya dalam berpikir.

Sebab itulah, ketika April tersisa sepuluh hari lagi, saya baru sanggup menuliskan surat ini untukmu. Kamu pasti bertanya-tanya, memangnya apa yang terjadi, sampai-sampai Om-mu ini nyaris kehilangan kewarasannya dan baru sempat menulis saat ini? Entah apa yang telah terjadi, saya pun bingung untuk menjelaskannya. Terkadang, ada satu-dua hal yang terjadi dan sulit untuk didefiniskan. Kamu hanya bisa menerima dan menjalaninya dengan baik hingga satu-dua hal tersebut tanpa kamu sadari telah usai.

Begitulah, Al. Kesedihan-kesedihan datang menyerang saya dengan alasan yang tidak dimengerti. Saya hanya merasa sedih. Relung hati terasa hampa tak berpenghuni. Meski kawan-kawan mengajak berkelakar dan melempar candaan yang harusnya mengundang gelak tawa, yang saya lakukan hanya berpura-pura.

Di antara pikiran-pikiran kosong yang sering saya lakukan tanpa sadar, ada pikiran yang bertanya-tanya, akan sampai kapan saya hidup seperti ini? Akan jadi apa saya sekian tahun kemudian? Kapan pula waktu saya menyudahi hidup di dunia ini?

Ah, mungkin karena di awal April kemarin, banyak orang yang saya kenal telah usai menjalani kehidupannya. Karenanya, pikiran-pikiran tentang hidup dan koloninya itu meracuni kewarasan saya.

Rangkaian peristiwa itu bisa jadi membuat saya diserang rasa kehampaan tanpa ampun. Ketahuilah Al, hidup yang seperti sungguh bukanlah hidup yang mengenakkan. Kamu dibuat sedih oleh sesuatu yang ada di dalam dirimu sendiri. Masalahnya ada di sana, dan yang bisa menyembuhkannya adalah dirimu sendiri. Entah bagaimana caranya.

Kini, tepat hari saya menuliskan surat ini, kehampaan itu berangsur-angsur hilang, semoga benar demikian. Beberapa beban dalam kepala ini perlahan saya angkat dan menggantikannya dengan kesibukan-kesibukan seperti yang sudah-sudah.

Al, kadang hidup sesusah itu untuk dimengerti. Tak perlu mencari masalah dengan orang lain pun, kamu bisa bermasalah dengan dirimu sendiri. Dan menurut saya, itulah permasalahan paling besar. Karena dengan dirimu sendiri lah kamu menjalani hidup. Ketika ia mulai memberontak dan tak sejalan dengan apa yang menjadi keputusanmu, apa yang bisa kamu lakukan?

Itulah mengapa, orang-orang bijak selalu berkata, cintailah dirimu sendiri.

Sayangnya, saya tidak bisa sepenuhnya melakukan itu.

Tabik, Ra Abraham Sumitra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s