Cerita Tentang Rendahnya Minat Baca

Grup Kelas di Whatsapp

Pagi tadi, saya membaca suatu artikel dari media jurnalisme online, tirto.id, berjudul “Sukarnya Mencari al-Khawarizmi Baru” yang ditulis oleh Nuran Wibisono terbitan 28 Mei 2017. Sesuai judulnya, artikel tersebut memuat tentang biografi sang bapak Aljabar, Al-Khawarizmi dan tentunya memiliki kaitan dengan studi yang sedang saya tempuh—Matematika. Karenanya, saya berinisiatif untuk membagikan artikel tersebut kepada teman satu kelas saya yang tergabung dalam grup whatsapp dengan harapan setelah membacanya, mereka akan termotivasi dan mendapat semangat baru. Terlebih, dengan banyaknya tugas yang kini tengah mengepung waktu liburan Ramadan kami.

Namun angan hanyalah angan. Meski sudah saya kutip sebagian isi dari artikel itu, berikut dengan harapan saya setelah mereka membacanya, rupanya kenyataan tak sebanding dengan harapan. Begitu link artikel terkirim, dalam hati saya harap-harap cemas. Khawatir tidak ada yang merespon.

Setelah detik berlalu menjadi menit, kekhawatiran tersebut ditumbangkan oleh satu anak yang merespon—panggil saja si A. Jangan ditanya betapa senangnya saya. Senyum seketika melintang, sementara tangan bergegas untuk membuka pesan.

Aih, rupanya harapan saya terlalu tinggi. Si A rupanya bertanya apa maksud saya membagikan link artikel tersebut. Duh, tentu saja untuk dibaca kawan.

Tak lama, satu anak merespon lagi—kali ini mari panggil dia si B. Harapan itu kembali terpupuk. Respon B bisa dibilang lebih baik dari si A, meski saya pun sangsi apakah ia sudah membaca keseluruhan dari artikel tersebut. Mengapa saya sangsi? Toh responnya sesuai dengan artikel. Setelah saya pikir-pikir lagi, dari judul pun ia bisa tahu akan seperti apakah artikel itu berisi. Jadi, bisa saja, ia menyimpulkan dari judul, dan barangkali dari apa yang saya tulis ketika membagikan artikel tersebut.

Kemudian si C—merupakan seseorang yang sudah saya beritahu bahwasanya saya akan membagikan artikel bagus (menurut saya) di grup kelas—turut berkomentar dan menjawab pertanyaan si A mengenai maksud saya membagikan artikel tersebut. “Buka linknya, baca artikelnya,” begitu tulisnya. Tapi, saya pun kembali sangsi, apakah ia melakukan apa yang telah dikatakannya pada si A?

Lalu datanglah si D mengomentari, mengutarakan jika artikel yang saya bagikan itu sangat panjang. Padahal jika dibaca normal, artikel itu hanya butuh waktu empat menit untuk diselesaikan—tertera dalam artikel tersebut. Ah, tapi tak apa, itu artinya ia ada niatan untuk membaca, entah selesai entah tidak.

Lama setelah itu, banyak yang bertanya seperti A, ada pula yang membuka link-nya tapi tak dibaca isinya. Ya sudah, barangkali salah saya juga, membagikan suatu artikel di pukul enam pagi ketika orang-orang sedang nyaman-nyamannya terlelap dibalik selimut setelah sahur di bulan Ramadan ini.

Di grup itu, ada 47 responden yang menerima. Saya tidak tahu dari ke-47 responden itu, ada berapakah yang membacanya hingga selesai, membaca sebagian, hanya sekadar membuka link kemudian dikeluarkan lagi, dan hanya melihatnya sepintas dari judul yang tertera di kolom chat.

Rendahnya Minat Baca

Hal ini mengingatkan saya akan artikel yang membahas mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Setelah saya cek lagi, dilansir dari kompas.com (29/8/2016), berdasarkan studi “Most Littered Nation In The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Penelitian dari UNESCO pun menunjukkan hal serupa, dari 1000 penduduk di Indonesia, hanya ada 1 orang yang punya minat baca atau 0.001 persen dan rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca 27 halaman buku dalam setahun. Tentu hal ini sangat memprihatinkan literasi Indonesia.

Tak hanya 47 responden di atas, beberapa orang kenalan saya pun sempat bercerita di antara sela-sela obrolan akan ketidaksukaan mereka terhadap kegiatan membaca. Banyak di antara mereka yang mengaku lebih suka mendengarkan dan/atau menonton. Misal saja ketika akan menghadapi ujian, banyak orang-orang yang lebih suka mendengarkan teman lainnya menceritakan isi buku yang dipelajari ketimbang membacanya sendiri.

Artikel yang saya bagikan itu hanya butuh waktu normal sebanyak empat menit—saya ulangi lagi—untuk dibaca. Bukan buku dengan tebal ratusan bahkan ribuan halaman yang berisi teorema dari al-Khawarizmi itu sendiri.

Tidak hanya untuk kasus ini saja, banyak kasus dimana orang enggan untuk membaca dan lebih percaya pada omongan orang dari mulut ke mulut tanpa tahu pasti dari mana sumbernya. Tak heran, bila kini hoax bertebaran di mana-mana karena rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Lagi, pikiran positif saya berujar begini; Ah, mungkin momen ketika saya membagikan artikel itu kurang tepat. Pun, barangkali artikel yang saya bagikan tidak begitu menarik hingga peminat pembacanya pun sedikit.

Lantas, pertanyaan baru pun muncul dalam kepala saya; Tulisan seperti apakah yang menarik minat baca masyarakat Indonesia pada umumnya?

Bukan tentang pemberitaan gosip artis ini yang selingkuh dengan artis itu, kan? Tolong, bilang pada saya, bukan itu jawabannya.

P.S: Semoga ada orang yang membaca celotehan saya di pagi ini hingga selesai. Juga permintaan maaf bila mana tulisan ini menyinggung beberapa pihak.

Tabik,

Dian Aulia

14/6/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s