Mengemas Peristiwa: Al dan Ra (7)

/7/

27 Juni

Saya sangat menyukai perjalanan, kecuali satu hal; perjalanan pulang.

Ingatanmu akan diporak-porandakan oleh kenangan selama perjalanan itu, mempertanyakan bagaimana kondisi kampung halamanmu, bagaimana kehidupan masyarakatnya, apakah masih percaya dengan hal-hal takhayul dan sejenisnya, apakah menggunjing orang lain lebih sering dilakukan dari pada mengurus keluarganya sendiri, dan yang paling terpenting, bagaimana reaksi keluargamu ketika tahu bahwa kamu pulang setelah sekian lama lenyap di tanah rantauan.

Saya selalu berharap banyak.

Setidaknya berpikir bahwa orangtua saya akan menyambut sehangat sambutan darimu, Al. Pun dengan tetangga yang berhenti untuk berkomentar ini itu mengenai kehidupan yang saya jalani.

Perjalanan selalu membuat saya belajar banyak hal. Dalam kereta, bis, pesawat, kapal, dan lain sebagainya, ada orang-orang yang sedang meniti harap; entah itu ingin cepat sampai ke tempat tujuan atau ingin kendaraan yang ditumpanginya mengalami suatu masalah sehingga menunda kepulangannya.

Pikiran saya bahkan pernah dengan kurangajarnya membayangkan bila mana kendaraan yang saya tumpangi akan mengalami kecelakaan dan menewaskan saya. Pikiran ini bukan hanya sekali dua kali melintas. Berkali-kali hingga mampu membuat imajinasi dan harapan hanya berbeda tipis. Sebab rasanya pikiran ini menjadi harapan yang sudah lama saya tampik.

Barangkali ini hanya pendapat ngawur saya, tapi pikiran semacam itu juga kerap kali menghantui mereka yang berada dalam perjalanan sama seperti saya. Ada dua kesimpulan yang timbul dari pemikiran buruk itu—dan keduanya telah saya alami.

Pertama, mereka yang segera sadar dan meyakinkan diri bahwa perjalanan ini akan membawa mereka pada suatu muara yang dinanti-nanti; pulang, rumah, keluarga. Kedua, adalah mereka yang benar-benar ingin bahwa sesuatu yang buruk itu akan terjadi untuk menuntaskan rasa ingin tahu mereka pada satu hal; keluarga.

Keduanya berbicara mengenai keluarga, tapi dalam artian yang berbeda. Pertama adalah mereka yang tahu arti keluarga dan mengerti bahwa ada keluarga di rumah yang tengah menanti kepulangannya, dan yang terakhir adalah mereka yang tidak benar-benar tahu apa arti keluarga yang sesungguhnya.

Itulah mengapa saya membenci perjalanan pulang; saya melihat banyak harapan di tiap kepala yang ada di sekeliling saya. Mereka yang pulang bersama kawan-kawannya maupun mereka yang pulang ditemani kesepian.

Suatu saat nanti, ketika kamu dalam suatu perjalanan, Al, saya yakin kamu pun akan mengalami momen yang sama dengan apa yang telah saya ceritakan. Momen yang membuat wajahmu tampak sendu karena kepulanganmu sedang berpegang pada harapan yang entah akan terkabul atau tidak.

Bagaimanapun juga, saya mendoakan yang terbaik untukmu. Jangan lupa untuk bersyukur dan bahagia.

Tabik dari saya,

Ra Abraham Sumitra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s