Mengemas Peristiwa: Al dan Ra (9)

 

/9/

Agustus, 27

 

Al, tak terasa Agustus sebentar lagi akan menutup usianya.

September kembali tiba. Kemarau akan pamit. Penghujan tak lama lagi menjemput.

Waktu silih berganti tanpa terasa. Entah memang ia yang menelusup dengan sebegitu cerdik, atau kita yang mudah terlena.

Surat kesembilan, Al. Sudahkah saya bilang padamu bahwa saya akan mengakhirinya di surat kesepuluh, Al? Kalau belum, maka biarlah kali ini saya bilang. September akan jadi perpisahan kita dalam aksara.

Semoga tidak dalam ucap.

Saya sedang membaca buku, Al. Bukan buku yang cocok untuk anak seusiamu, tapi biarlah saya bercerita mengenai beberapa bagian yang selayaknya dapat saya bagi denganmu.

Ialah tentang pencarian jati diri. Kisah tentang seorang pangeran yang menyusuri nusantara untuk dekat pada penciptanya.

Betapa imbang hidup manusia. Ia yang dulunya begitu baik dan dielukan oleh masyarakat, setelah mengembara nyaris dalam seluruh hidupnya, dengan kuasa pencipta berubah menjadi orang yang sesat dalam ilmu yang dicapainya. Sosoknya barangkali terlahir kembali menjadi sosok yang berbeda sepenuhnya dengan sifat lamanya. Tamak, licik, serakah, dan sebagainya.

Justru sebaliknya, tokoh lain yang semasa mudanya berbuat maksiat dan keburukan lainnya, begitu melakukan pengembaraan yang panjang, ia menjadi sosok yang begitu terhormat.

Memang hanya dalam buku, tapi bukankah memang begitu kehidupan, Al?

Bukankah setiap manusia memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing?

Sama seperti alam yang memiliki gelap dan terangnya, siang dan malam, barat dan timur, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan. Semuanya saling melengkapi satu sama lain.

Kamu tidak akan bisa hidup hanya dalam kebaikan saja, kesenangan semata, kemenangan belaka. Harus ada yang mengimbanginya karena itulah mengapa hidup manusia disebut sempurna.

Karena keburukan, kesedihan, kekalahan, dan lain sebagainya adalah bagian dari kesempurnaan.

Bagaimana bisa? 

Sudah saya tuliskan pada pesan sebelumnya. Kalau kamu lupa, saya ingatkan kembali.

Karena, bagaimana kita bisa tahu bahwa yang kita rasakan saat ini adalah kebahagiaan kalau tak ada pembandingnya?

Bagaimana kamu bisa bilang hari ini saya bahagia seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi kalau yang kamu rasakan tiap hari hanya itu?

Saya, kamu, kita, harus merasakan yang sebaliknya lebih dulu untuk tahu apa yang sebenarnya dirasa saat ini. Entah bahagia, sedih, menang, kalah, terang, gelap, siang, malam, baik, buruk.

Keseimbangan yang kita miliki adalah bentuk dari kesempurnaan manusia. Begitulah Tuhan mencipta.

Begitulah Al, pendapat ngawur saya. Semoga tak menyesatkan bagimu yang membaca.

 

Tabik,

Ra Abraham Sumitra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s