Mengemas Peristiwa: Al dan Ra (10)

September, 30

/10/

Tepat September usai, aksara ini terhenti. Bisa jadi hanya sejenak, namun tak menutup kemungkinan pula untuk selamanya.

Al, barangkali saya punya banyak salah. Saya minta maaf. Sungguh-sungguh saya minta maaf, sebab sekali maaf pun jika tidak diucapkan secara langsung tak ada artinya.

Saya tidak tahu apakah kamu akan memaafkan saya, tapi bicara tentang maaf, ada hal yang terlintas dalam benak saya. Iya, percaya tidak Al, bahwa salah satu hal tersulit yang dilakukan oleh manusia adalah meminta maaf?

Manusia dengan ego tingginya, sudah ia akui kesalahannya, tapi mana mau minta maaf secara langsung? Paling hanya dipendam dalam hati, sampai basi dibawa mati.

Saya orang yang seperti itu? Iya Al, saya seperti itu. Saya takut dan mempermasalahkan hal-hal yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan. Bagaimana bila ini dan bagaimana bila itu segalanya berkelebat dalam satu waktu.

Tak apa bila kamu merasa tak bersalah dan menjadi pihak yang menerima maaf. Tapi Al, satu pesan saya, ketika ada sesuatu yang mengganjal dan rasa bersalah itu timbul, ungkapkan dan minta maaflah sebelum penyesalan itu ada.

Sebab itulah saya menulis surat ini untuk meminta maaf padamu. Maaf, telah mengirimkan sampah-sampah ini dan menjebakmu dalam kerumitan hidup yang saya ciptakan.

Tabik,

Sampai suatu waktu yang belum pasti

Ra Abraham Sumitra

[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s