Sedikit Cemas, Banyak Rindunya.

 

Payung Teduh selalu memiliki tempat di hati; berbagi bersama Banda Neira, Couldplay, Float, Passion Pit, Dewi Lestari, Akdong Musicians, EXO, dan segala jenis musik di playlist yang terlalu campur aduk untuk diidentifikasi (sebab ada lagu berbahasa Indonesia, Inggris, Amerika, Korea, Jepang, Mandarin, bahkan Thailand di playlist).

Tapi, bisa dibilang yang paling spesial adalah Payung Teduh. Saya mengenal musiknya sejak duduk di bangku SMA, sekitar tiga tahun lalu. Memutarnya saban hari secara berulang-ulang di kamar tanpa bosan. Lagipula, saya mendengarnya sambil lalu, tidak sungguh-sungguh menyimak liriknya.

Saya hanya mendengarkan lantunan melodinya. Liriknya kadang-kadang kalau kebetulan dengar. Tahu judulnya juga tidak. Pokoknya, saya hanya tahu itu musiknya bikin tenang dan pembawanya adalah band indie bernama Payung Teduh dan asalnya dari Indonesia.

Lambat laun, judul lagunya melekat diingatan saya. Beberapa ada yang sengaja saya ingat, agar mudah jika ingin mengulang lagunya di lain hari. Ada Angin Pujaan Hujan, Cerita Tentang Gunung dan Laut, Resah, Berdua Saja, Kita adalah sisa-sisa Keikhlasan yang Tak diikhlaskan, Malam, Kucari Kamu, Amy, Tidurlah, Untuk Perempuaan yang Sedang di Pelukan, Menuju Senja, dan banyak lagi lainnya.

Ada hal yang sulit untuk didefinisikan ketika saya mendengarkan lagu-lagu tertentu dari Payung Teduh. Seperti Amy, Tidurlah, Kita adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tak diikhlaskan, dan Resah merupakan lagu yang saya dengarkan ketika pikiran saya sedang dalam kondisi menyebalkan. Tiap lagunya memiliki arti khusus (yang kadang kala nyeleneh dari arti yang sesungguhnya).

Kebiasaan ini rupanya tak hanya dinikmati oleh saya seorang. Adik saya, 13 tahun, merupakan salah seorang yang hobi menebak-nebak lagu Payung Teduh yang terputar dan akan bersorak ketika judul lagu tebakannya benar. Kami hanya terbaring di atas kasur, menatapi langit-langit kamar, dan sibuk dengan jalan pikiran masing-masing. Senyap. Hanya ada 13 lagu yang terputar secara sporadik. Tanpa percakapan.

Masa itu sudah lama lewat. Sekarang saya merantau, jauh dari tanah kelahiran. Payung Teduh mungkin masih menggema dalam ruangan yang saya tempati, tapi ada suatu momen yang sulit untuk dilakukan lagi. Hanya di hari tertentu ketika saya berkesempatan pulang. Sebab itu, Payung Teduh membuat saya rindu rumah. Kebiasan mendengar lagu-lagunya pun lama-lama memudar. Tergantikan lagu lain yang meski bikin tenang, tetap ada yang kurang.

Lalu, di tahun ini, Payung Teduh tahu-tahu mengeluarkan lagu baru yang dalam waktu singkat langsung terdengar dimana-mana. Musik videonya langsung nangkring di deretan populer youtube. Akad; begitulah judulnya berbunyi.

Sejujurnya, saat saya mendengarnya pertama kali, saya bingung dengan reaksi yang ada. Saya tahu itu Payung Teduh, namun di lain sisi, saya juga tidak begitu mengenalinya. Berbeda dari respon orang-orang yang saban hari memutar lagu itu tanpa bosan dan ada dimana-mana, saya tetap kukuh memutar lagu-lagu lawas Payung Teduh.

Jika orang beralasan Akad adalah lagu yang romantis, maka saya punya Berdua Saja dan Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan. Saya sepakat bila Akad adalah lagu yang bagus, karena memang begitu kenyataannya. Tapi, ada beberapa hal yang membuat saya merasa biasa saja.

Mungkin, karena lagu ini sedikit berbeda. Mungkin, karena saya terlalu lelah mendengarnya ada dimana-mana, entah itu di kamar tetangga, indekos tetangga, kampus, mall, cafe, dimana saja. Mungkin juga karena saya sudah terbiasa dengan musik lawas Payung Teduh. Atau, alasan yang paling aneh, karena saya tidak mendengarkannya di rumah bersama adik saya.

Tapi, meski begitu, rasanya tetap senang ketika Payung Teduh semakin dikenal orang dengan lagu itu. Herannya, ada suatu kekhawatiran yang timbul dari diri saya dan sulit untuk didefinisikan lewat kata-kata.

Kekhawatiran itu tak mewujud dengan sia-sia. Sang vokalis, Is, di bulan November kemarin mengumumkan bahwa dirinya tidak akan bersama Payung Teduh lagi selepas tanggal 31 Desember setelah mengeluarkan album baru dan menyelesaikan kontrak.

Dulu, saya mungkin tidak terlalu peduli dengan hal semacam itu sebab saya hanya mendengarkan musiknya. Saya bahkan tidak mau repot-repot mencari di internet siapa itu Payung Teduh (dan sampai sekarang pun masih belum tahu siapa saja punggawanya selain Is karena namanya dijadikan judul berita—karena jika melakukannya entah mengapa akan timbul kekhawatiran baru). Bahkan ketika awal-awal saya mendengar musiknya, saya mengira bahwa band itu merupakan band tua yang telah bubar dan musiknya terlalu bagus jika dilupakan begitu saja.

Tapi, rupanya saya tidak begitu ikhlas bila Payung Teduh kehilangan personilnya dan kemungkinan terburuknya adalah bubar.  Kadang, tanpa disadari, kita telah terikat oleh sesuatu dan mengharapkan agar segala sesuatunya selalu berjalan baik-baik saja. Lupa, bahwa waktu dapat mengubat sesuatu tanpa meminta izin lebih dulu.

Mungkin, di suatu waktu nanti, akan ada sedikit cemas dan banyak rindunya di masing-masing hati para pendengar setianya. Dan semoga, rindu itu tak berbuah lara.

 

7/12

Ditulis ketika sedang rindu rumah dan di kamar indekosnya menggema 14 judul lagu Payung teduh yang diputar secara acak. Sementara niatan awalnya adalah menulis esai/opini/berita sebab sudah dikejar-kejar deadline.

Dian Aulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s