Gunung Kidul: Dari Aksara jadi Nyata

 

Aku tidak ingat kapan dan bagaimana awal mulanya aku mengetahui nama daerah itu; Gunung Kidul. Menjadi salah satu kabupaten di DIY, aku hanya mengenal sebatas itu tanpa tahu dimana letak pastinya dan melihat secara langsung bagaimana kondisi geografisnya, hingga akhir Januari 2018. Indera penglihatanku memang belum pernah menangkapnya sebelum itu, tapi dalam kepalaku Gunung Kidul terasa nyata seolah aku pernah mengunjunginya jauh-jauh hari.

Bukit dan lembah yang mengular dengan bebatuan kapur yang mendominasi. Satu lagi, desau angin yang seolah berbisik hingga merasuk ke dalam sanubari. Pada satu waktu di akhir Januari akhirnya aku bisa memvisualisasikan apa yang selama ini mendekam di balik kepala mengenai suatu tempat bernama Gunung Kidul.

Saat aku mulai memasuki daerah itu, dalam kepalaku berseru: Kinanthi! Aku sudah tahu bagaimana daerah tempatmu tinggal di masa kecil! Aku mengerti sekarang.

Kinanthi, aku mengenal perempuan itu saat aku duduk di bangku SMA kelas 11. Di sudut perpustakaan yang lengang meski saat itu waktunya istirahat. Aku memutuskan untuk mengenalnya tanpa pikir panjang, tanpa ekspektasi. Beberapa hari berikutnya, dua hari barangkali, aku langsung terkagum-kagum padanya. Toh nyatanya, setelah bertahun-tahun berlalu, ia masih betah singgah dalam memoriku yang sebenarnya cukup payah untuk mengingat.

Bagi Kinanthi, Gunung Kidul bukan sekadar daerah yang menjadi tempat kelahirannya. Tempat itu menjadi sedikit bagian dari masa kecilnya yang akan selalu tersimpan dalam ingatannya sekeras apapun ia berusaha melupa. Tempat yang mau sejauh apapun ia berkelana, kakinya akan kembali membawanya kesana. Tempatnya berasal dan bermuara.

Aku sudah tidak begitu ingat bagaimana ceritanya, selain bahwa Kinanthi harus menelan pil pahitnya di Gunung Kidul, dan ikut menyeretku untuk mengingat tempat itu. Aku ingat Ajuj, pun begitu pula dengan ayah Kinanthi, menambang di pegunungan kapur dengan upah tak seberapa, sementara nyawa jadi taruhannya. Di tempat mereka, jalanan terjal dan sempit, rumah penduduk masih jarang, dipisah oleh ladang-ladang luas untuk berkebun, dan deburan ombak di sepanjang pantai di sisi lainnya.

SMA kelas 11, hanya butuh beberapa hari, aku mengenal Gunung Kidul seolah telah mengunjungi tempat itu, diseret oleh seorang perempuan bernama Kinanthi yang terangkum dalam buku berjudul Galaksi Kinanthi karya Tasaro GK. (Setelah beberapa waktu berlalu, aku merasa bahwa karakter Kinanthi di masa kecil mirip dengan Srintil dan Kinanthi dewasa mirip dengan Zarah—yah, mungkin hanya perasaanku).

Bisa dibilang, Kinanthi menjadi jembatanku untuk mengenal Gunung Kidul. Sebab pernah pada suatu ketika, berita di televisi menyebut nama Gunung Kidul dan ingatanku seketika berlari pada Kinanti. Mereka; Kinanthi dan Gunung Kidul terlalu mengikat dalam kepalaku.

Tak sampai pada Kinanthi dalam Galaksi Kinanthi, rupanya perkenalanku dengan Gunung Kidul tak sebatas itu. Kali ini datangnya dari Sandi Yuda; yang hingga ini kisahnya belum sepenuhnya kuketahui karena ah, tenang Yud, entah kapan waktunya, tapi aku akan menggenapi kisahmu. Untuk saat ini aku belum sanggup, sebab ah Yuda, kisahmu terlalu menguras otak dan pikiran. Aku belum siap menerima itu.

Sandi Yuda si pemanjat tebing. Tahu dimana? Tentu saja di Gunung Kidul. Sepengetahuanku, ia dibuat gelisah oleh bunyi angin. Desau angin itu seolah berbisik, berbicara, bernyanyi, berteriak, hingga rasanya sulit dibedakan apakah ia hanya sekadar angin atau sebuah suara yang menggema dalam kepala.

Saat Yuda bilang begitu, aku mengernyit, masa sih angin bisa sebegitunya? Dalam hidupku, bunyi angin tidak sampai begitu keras hingga digambarkan sebagai teriakan, atau merdu hingga terdengar seperti nyanyian. Mungkin ada, namun itu terjadi hanya kadang-kadang saja, tapi kata Yuda, itu terjadi setiap saat, dan semuanya terjadinya dalam satu hari.

Sampai aku sendiri mengalaminya. Gunung Kidul di akhir Januari. Aku mendengar desau anginnya yang kadang terdengar merdu seperti nyanyian, lalu detik berikutnya berubah menjadi lolongan yang mengerikan, atau lembut seolah ia sedang berbicara. Meski angin versiku adalah angin di tepi pantai Wedi Ombo dan angin yang disebutkan Yuda adalah angin dari tebing batuan cadas (yang ditiupkan oleh lubang tebing bernama Sebul, dan salah satu bunyinya ia sebut sebagai bunyi Fu) setidaknya kini aku sedikit mengerti.

Suara di kepalaku mengaku kalah pada Sandi Yuda, seseorang yang harus merelakan memotong jarinya setelah memakan sesajen warga (benar begitu tidak ya? Aku agak lupa, tapi ingatanku bilang begitu): “Yuda, sekarang aku mengerti maksud angin yang kamu maksud.”

Aku tidak banyak mengingat tentang Sandi Yuda selain  ia sebagai pemanjat tebing di Gunung Kidul, memiliki sahabat bernama Parang Jati, dan kekasih bernama Marja yang kemudian memiliki perjalanan hidup aneh. Aku tidak begitu tahu karena di sebagian perjalanan aku telah menyerah pada Bilangan Fu karya Ayu Utami (tapi sebelum itu aku justru telah menamatkan Lalita—buku kedua setelah Bilangan Fu yang saat itu telah berpindah latar dan salah satunya di Candi Borobudur).

Akhir Januari kemarin, Gunung Kidul yang awalnya berasal dari aksara akhirnya jadi nyata. Aku sungguh-sungguh telah menginjakkan kakiku di daratannya. Menatap takjub pada serangkaian perbukitan dari batu-batuan cadas yang sukar ditumbuhi pepohonan dan berdiri angkuh hampir di sepanjang kanan kiri jalan. Aku mendengar mulai dari siulan hingga lolongan angin, dan sapaan lembut ombak hingga amukannya pada karang.

Sabtu malam hingga Minggu siang, di saat itulah waktu menggenapi aksara yang berlarian dalam kepalaku menjadi sesuatu yang nyata dan bukan hanya sekadar imaji.

Masih banyak aksara yang ingin mewujud, di antaranya mereka berada di Tanjung Puting, Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Wonokromo, Lamlhok, dan lain sebagainya. Entah sungguh-sungguh akan mewujud atau tidak, tapi kuharap iya.

 

Senin, 5 Februari 2018. 1:08 AM.

Dian Aulia

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s