Tentang Cinta dan Dirimu Sendiri

Saya yakin, setiap manusia pasti menyanyangi dirinya sendiri. baik disadari maupun tidak.

Tapi, lantas apa?

Kadang kita mengalami emosi yang berlebihan ketika orang yang kita sayang—entah itu keluarga, kawan, atau orang terkasih—mengabaikan kita. Sepele alasannya, mereka enggan mendengarkan keluh kesah kita karena di suatu waktu mereka juga memiliki permasalahan sendiri yang harus cepat-cepat diselesaikan. Kadang, kita tidak mau mengerti dan merasa bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah masalah paling pelik.

Kita terlalu bergantung pada orang lain tanpa sadar.

Waktu terlalu menipu dengan mengubah arti sesaat menjadi selamanya. Sebab mereka tidak sepenuhnya dari pagi hingga pagi lagi bersama kita. Mereka tidak selamanya mengerti apa yang sebenarnya ada dalam keruwetan otak yang terus menerus memproduksi pikiran-pikiran buruk dan menyebalkan.

Kadang, menyalahkan diri sendiri adalah jalan satu-satunya.

Kadang, berasumsi bahwa keberadaan kita tak berarti bagi orang-orang di sekitar kita bisa jadi ada benarnya.

“Bagaimana kalau kendaraan yang saat ini saya alami mengalami kecelakaan? Bagaimana respon orang-orang yang mengenal saya? Apakah mereka akan sedih? Apakah mereka akan biasa saja? Apakah mereka akan kehilangan saya?”

Atau, permasalahan klise lainnya, adalah ketika kita melihat orang lain yang hidupnya tampak lebih bahagia dari kita. Pengandaian demi pengandaian seakan tak ada henti-hentinya. Andai aku jadi ini, jadi itu, jadi siapapun yang di mata kita kebahagiaannya tanpa cela. Pada akhirnya, kembali lagi kita pada satu pertanyaan; kenapa hidup saya begini?

Ketika kita sudah tidak mampu menjawab pertanyaan itu, apalagi yang harus kita lakukan?

Iya, kenapa hidup orang lain tampak begitu penuh warna sedang ketika melihat hidup sendiri yang terlihat hanya begitu-begitu saja?

Katanya, hidup itu tak usah peduli omongan orang lain. Katanya, hidup itu cukup menjadi diri sendiri. Tapi nyatanya, dunia itu terlalu baik bila orang lain tak ikut campur perihal bagaimana kita menjalani hidup masing-masing.

Mereka, dia, saya, kamu, toh pada akhirnya hidup dengan benang-benang tak kasat mata yang saling menghubungkan satu sama lain. Seperti ketika kamu yang merasa sedih saat orang-orang hanya sedikit memberi hati di postingan fotomu, merasa kecewa ketika dia yang kamu harapkan tak sempat meluangkan sedikit waktunya untukmu, atau ketika si dia yang tanpa sadar telah mengabaikanmu dan menemukan orang baru di hidupnya.

Tapi, sadar tidak, bahwa dengan kamu yang berkubang dalam kekecewaan karena orang lain, kamu telah melupakan eksistensimu sendiri?

Ketika kamu sudah tidak bisa mengandalkan orang lain di sekitarmu, memang siapa lagi yang bisa diandalkan kecuali dirimu sendiri?

Guru saya sewaktu SMA pernah bilang, “Kalau bukan kita yang menyanyangi diri sendiri, siapa lagi?”

“Sebelum mencintai orang lain, cintailah diri sendiri.”

Pada akhirnya, mari kita jawab pertanyaan perihal kehidupan yang bercokol di benak masing-masing itu dengan pertanyaan baru; “Sudah mencintai diri sendiri belum?”

 

7/6/2018

Dian Aulia

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s