Rusa di Taman Balekambang

Sudah lewat tiga bulan, kalau tidak salah hitung. Tulisan ini akan menceritakan tentang rusa di Taman Balekambang. Hanya itu.

Kalau kamu tinggal ataupun singgah di Solo, entah dalam hitungan tahun ataupun hari, kamu bisa berkunjung ke Taman Balekambang untuk bertemu rusa yang berkeliaran bebas tanpa batas jeruji atau tembok penghalang seperti di kebun binatang.

Aku sungguh-sungguh. Singgahlah sebentar. Memberi makan rusa barangkali terdengar membosankan, tapi di detik ketika rusa mendekat dan menerima uluran makan darimu, yang membosankan hanya sekadar lewat dipikiran.

Sekaligus aku akan mengingatkan sedari awal, tulisan di bawah setelah ini hanya sebagian dari apa yang telah aku lakukan pada suatu hari di taman Balekambang. Itupun yang hanya melekat di ingatan.

Mulanya dimulai dari pertanyaan impulsif yang kuajukan pada seorang teman. Ia, kala itu minta ditemani untuk pergi ke Gramedia. Membeli buku tentang Ikigai. Sebuah konsep hidup dari Jepang, katanya sejauh ingatanku, ia ingin hidup dengan konsep Ikigai, memiliki alasan dalam hidup, bahwa segala sesuatu berangkat dari sana, melakukan aktivitasnya dengan alasan yang menyenangkan. Aku tidak begitu paham, tapi ia bilang di suatu waktu akan menuliskannya dalam blog pribadi.

Sementara ia mengajakku ke Gramedia, ada hal lain yang melintas dalam keinginanku. Tercetus begitu saja. Sebab pikiranku sedang runyam kala itu, apa alasan tepatnya, aku lupa. Aku hanya ingin beraktivitas di luar ruangan dan tidak ada banyak pilihan tempat yang bisa kudatangi di Solo apalagi itu sudah siang hari. Aku teringat pada suatu malam ketika menghadiri acara festival film dokumenter di Taman Balekambang, begitu keluar gedung dikerubungi oleh rusa yang dibiarkan bebas di halaman.

Maka, itu menjadi kali ketiga bagiku datang ke Taman Balekambang.

Pertama, ketika aku masih mahasiswa baru, usai kegiatan pagi yang terlalu cepat selesai dan terlalu sayang jika langsung pulang. Kala itu, bersama dua kawan, kami tidak tahu menahu Balekambang selain perannya sebagai taman kota dengan rerumputan luas dan pohon-pohon rindang serta kolam air yang dimanfaatkan sebagai tempat memancing dan wahana perahu kayuh.

Aku melihat satu dua ekor rusa yang bersantai di bawah pohon, juga di tepi kolam, menikmati kantuk dan sepoinya angin pagi menuju siang. Kami hanya berkunjung sebentar, sebab meski pagi pun cahaya matahari sudah terlalu meninggi. Kala itu, pikir kami, agar tahu bagaimana rupa dan isi Balekambang yang namanya terkenal di Solo. Salah satu kawan waktu itu bilang, ada juga kelinci dan beberapa reptil, hanya saja kami tak mengunjunginya.

Kali kedua, adalah di waktu malam hari ketika ada acara tahunan festival film dokumenter. Namanya Solo Documentary Festival Film (Sodoc), kebetulan saat itu digelar di Gedung Kethoprak Balekambang. Selesainya, sudah ada banyak rusa yang mengerubung di halaman parkir. Barangkali mereka kelaparan dan meminta makan.

Kali ketiga, seusai dari Gramedia setelah kawanku (beda orang dari dua lainnya di awal cerita kunjungan pertama) membelanjakan uangnya menjadi sebuah buku. Ia masih terheran-heran dan mengira bahwa ajakanku adalah suatu candaan basi alih-alih suatu ajakan sungguh-sungguh. Maka, di suatu Minggu pada pukul 4 sore, kami benar-benar datang setelah salah jalan sebentar.

Waktu itu, masing-masing dari kami dikenakan biaya 4000 rupiah. Termasuk uang parkir sebuah sepeda motor. Total uang yang kami bayar 8000 rupiah. Kami memarkirkan motor di depan gedung Kethoprak. Beberapa anak kecil bermain di sana. Sementara para ibu berkumpul mengawasi.

Aku turut senang ketika kebanyakan anak disibukkan dengan permainan yang ada di gawai, mereka bercengkerama menyanyikan lagu sambil berbaris mengular memutari halaman gedung. Melewati dua anak lainnya yang mengangkat tangan sambil mengaitkan jari membentuk pintu. Sebagian dari kalian mungkin mengenalnya, mungkin tidak. Namanya permainan Ular Naga, atau kadang disebut Ular-ularan. Permainan yang sudah jarang ditemui, tapi aku menemukannya sambil menyeret ingatan pada masa kecil sendiri.

Melanjutkan jalan ke arah lain, kami menemukan beberapa rusa di halaman sebelah gedung. Ada yang hanya sendiri mengitari rerumputan. Kadang menatap beberapa pengunjung dengan penasaran, kemudian kembali abai. Ada pula yang berkelompok bersama kawanannya, berteduh di bawah pohon, tertidur. Di lain tempat di dekat kolam air, ada sekelompok rusa yang mengerubung berebutan makanan berupa kacang panjang yang ditawarkan oleh pengunjung. Pun, sebagian dari mereka adalah rusa bertanduk yang katanya lebih agresif. Tak ada alasan bagi para rusa itu untuk mendekat pada kami sebab tak ada makanan apapun yang bisa kami tawarkan pada mereka.

 

Kami, dan barangkali lebih tepatnya aku, sudah cukup senang memandangi kumpulan rusa yang berebutan kacang panjang dari tangan seorang pria paruh baya, sementara satu tangan lainnya kerepotan menggendong cucunya sambil mengajarkan si anak kecil itu untuk turut memberi makan. Tak berselang lama, si laki-laki tua itu bilang pada kami, mungkin terlalu jengah karena kami terus menerus memandanginya. “Itu mbak, saya bawa banyak kacang, diambil aja itu yang di plastik.”

 

Bahagia kami sungguh sangat sederhana untuk beberapa genggam kacang panjang. Ada kumpulan rasa yang terjadi, pacuan semangat sekaligus takut, begitu rusa akhirnya melihat kami, mendekat, lalu turut berebutan makan. Si anak kecil bahkan akhirnya ikut memberanikan diri. Kacang panjang cepat habis, tentu saja, dan aku dengan gumaman sendiri, berkata bahwa kala berkunjung kembali akan membawa sayuran untuk para rusa.

WhatsApp Image 2019-12-01 at 22.22.11

Pun temaram langit sudah menghias. Membias cahayanya di kolam air yang sudah menyepi. Tanpa angsa-angsa yang berenang dan lebih memilih untuk menepi di pinggir kolam. Sementara para pemancing sudah selesai mengemas alat pancingnya dan bergegas pulang. Kembali ke tempat parkir motor, rupanya anak-anak kecil yang kami jumpai di awal tadi masih melanjutkan permainan. Satu putaran setelah kami tunggu, mereka turut menyudahi permainan. Matahari lindap dan lampu-lampu perlahan dinyalakan.

 

*Ditulis sejak November, lupa kapan tepatnya

Dian Aulia Citra Kusuma

1/12/2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s