Katanya: Kamu Beruntung

78
Pinterest

Tidak sedikit yang bilang bahwa saya adalah orang yang beruntung. Bahkan, terkadang saya pun berkata demikian karena tidak tahu lagi apa yang harus dijawab ketika orang-orang bertanya kepada saya, “Kok bisa?”. Sungguh, saya pun tidak tahu. Saya sendiri bertanya-tanya: Kok bisa?

Biasanya perkataan ‘beruntung’ itu akan saya dengar setelah ulangan atau ujian. Atau kadang di waktu tertentu yang tak terduga. Pertama kali hal yang saya ingat adalah ucapan Ibu saya jauh-jauh hari. Barangkali saya masih SD atau SMP. Heran juga, kenapa saya masih saja ingat ucapan itu sampai sekarang. Beliau berkata demikian kepada kawannya: “Heran loh, wong nggak pernah belajar, tapi nilainya bagus. Beruntung itu.”

Dulu, saya pun ikut berpikir demikian. Bahkan terkadang pemikiran itu masih terbawa hingga sekarang. Sampai kemudian saya membaca tulisan seseorang (atau beberapa orang?) di sebuah akun media sosialnya yang saya lupa tulisan tersebut milik siapa. Bahwa tidak ada yang namanya beruntung di dunia ini, yang ada adalah mereka yang mau berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Sekecil apapun usaha itu.

Membacanya membuat saya terpekur lama. Kerap kali terpikirkan ketika sedang tidak melakukan apa-apa. Lalu, di sebuah acara seminar, kembali saya dipertemukan oleh orang-orang hebat; yakni Habiburrahman El-Shirazy, Ibrahim Malik, dan Ahmed Ali Ahmed Shehabi. Salah satu pembicara tersebut, Ibrahim Malik, seorang mahasiswa yang kini sudah diwisuda, adalah pemuda yang telah menjelajah banyak negara dengan prestasinya. Ia sudah tandangi Jepang, Malaysia, Prancis, Amerika, Mesir, dan lain-lain.

Dalam seminar tersebut, ia pun menceritakan pengalaman-pengalamannya. Orang-orang di sekitarnya berkata padanya bahwa dia orang yang beruntung. Tahu bagaimana reaksinya? Ia berkata: Saya mendapatkan semua itu dengan usaha. Yang mereka tahu hanya hasil akhirnya saja. Mereka tidak tahu bagaimana saya melalui proses panjang tersebut. Banyak hal yang harus saya korbankan untuk mendapatkan apa yang saya mau, tidak hanya semata-mata karena saya beruntung saja. Mereka yang berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tentu tidak mau hanya dibilang karena faktor beruntung saja.*kurang lebih begitu inti yang ia ucapkan.

Perkataan tersebut membuat saya mau tidak mau harus memikirkan apa yang telah saya lakukan selama ini. Benarkah demikian? Bahwa apa yang selama ini terjadi bukan hanya tentang beruntung dan tidak beruntung.

Dalam kasus saya, yang sejujurnya tidak memiliki prestasi apa-apa, namun sampai dapat gelar ‘beruntung’, saya mulai memikirkan hal lain.

Bagi saya: yang namanya usaha tidak hanya melulu tentang belajar.

Karena begitulah apa yang terjadi pada saya. Karena saya memang tidak segiat itu untuk belajar. Lantas, apa yang jadi penyebab sampai saya dibilang ‘beruntung’ segala? Toh kalau dibilang belajar, saya hanya belajar ketika sedang dalam menghadapi ulangan atau ujian saja. Saban hari saya habiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berfaedah seperti menonton drama korea atau fangirlingan sampai gila. Pun, ketika sedang dalam masa-masa ujian, saya hanya belajar bersama teman-teman saya, selebihnya tidak lagi.

Tapi setelah kembali mengingat-ingat, saya rasa saya mulai menemukan perbedaannya. Permasalahan apa yang jadi penyebab ketika hasil ujian keluar dan nilai masing-masing dari kami berbeda. Teman-teman saya, khususnya, yang sering bilang bahwa saya adalah ‘beruntung’, mereka seringkali ragu dengan apa yang mereka tulis, dan lebih memilih untuk mengurungkan diri menuliskannya. Berbeda dengan saya yang (bisa dibilang) berani menulis apa yang ingin saya tulis (dalam konteks, saya yakin dengan apa yang saya tulis).

Saya pikir, kuncinya ada pada kata ‘berani’. Saya berani, mereka takut. Saya yakin, mereka ragu. Saya mencoba, mereka enggan. Dan saat itulah saya berpikir, bahwa saya telah berusaha, meskipun tidak semaksimal mungkin. Saya menghargai setiap proses yang saya jalani.

Hal yang saya ulang dalam kepala saya ketika mengerjakan soal: Saya tidak mau menyia-nyiakan proses yang telah saya lalui.

Saya bukan orang yang pintar, yang langsung sekali paham ketika dosen menjelaskan, pun sangat banyak orang yang nilainya lebih bagus dari saya di kelas. Saya juga bukan orang yang rajin, yang tugasnya sudah selesai sebelum deadline, atau belajar setiap hari.

Saya kira, saya adalah orang yang menikmati/menghargai proses, yang mana hal tersebut adalah bagian dari usaha.

Jadi, ketika orang bilang bahwa saya ‘beruntung’, saya rasa mereka salah.

Satu lagi, bahwasanya semua orang adalah orang yang beruntung. Hanya beda pada waktu dan porsinya. Tinggal bagaimana saja kita menggunakan keberuntungan itu menjadi sesuatu yang lebih bermakna.

Karena,

un·tung n sesuatu (keadaan) yg telah digariskan oleh Tuhan Yang Mahakuasa bagi perjalanan hidup seseorang; nasib.

Lalu ingatlah,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (Ar Raad : 11).

Kaitannya: untung, nasib, mengubah.

 

Tabik, dari perempuan yang tetap saja suka dengan konteks kata ‘beruntung’.

Dian Aulia

27/11/16

Advertisements