Welcome, ’17!

2016,

Aku tidak bisa bilang dengan pasti apakah kamu jadi perantara yang baik untukku atau tidak. Jika disuruh membandingkan dengan tahun sebelum-sebelumnya, aku pun sudah lupa bagaimana perjalanan di tahun lalu. Aku hanya tahu, bahwa dirimu terasa cepat menghabiskan umurmu yang 365 hari itu. Rasanya baru sebentar aku tumbuh bersamamu.

Jika diingat-ingat lagi momen-momen apa saja yang terjadi, aku rasa masih sedikit sekali yang terjadi. Meskipun demikian, kurasa itu lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya dimana aku harus menyesuaikan diri dengan keadaan baru dan menerima berbagai hal yang membuat hatiku mengalami banyak kekecewaan.

Pertama, aku beranjak ke semester baru di pertengahan tahunmu dan menyelesaikan masa satu tahunku sebagai mahasiswa baru. Bagusnya, hasil yang aku terima tidak mengecewakan, meski sejujurnya aku ingin dapat lebih dari itu.

Kedua, tidak selang lama setelah libur semester, aku mulai mengikuti tutor bahasa inggris di kampus. Ah, aku senang sekali waktu itu rasanya. Aku masih ingat bagaimana cepatnya debar jantungku setelah mendaftarkan diri dan mendapat pengumuman bahwa diriku diterima. Masih berkaitan, tesku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan (meskipun sebenarnya ingin lebih lagi dari itu) padahal di hari ujian aku ketiduran saat mengerjakan soal.

Aku tergabung dalam lembaga pers mahasiswa tingkat universitas, setelahnya. Sejujurnya, bergabung ke dalam dunia jurnalistik adalah keinginanku sejak SMA. Alasannya sederhana, aku suka menulis. Meskipun setelah memasukinya, jurnalistik bukan hanya tentang tulis menulis. Betapa naifnya diriku dulu. Aku sadar, bahwa aku belum sepenuhnya maksimal dalam hal ini, tapi sungguh, aku senang dapat tergabung di dalamnya. Banyak manfaat yang aku peroleh dari sini.

Sejauh yang kuingat, itulah perubahan positif  dan besar yang terjadi dalam 2016.

Adakah perubahan yang negatif?

Well, aku tidak tahu apakah itu negatif atau tidak, aku hanya merasa sangat menyayangkan saja mengapa hal-hal itu terjadi dan mengecewakanku.

Paling pertama, aku jadi menyampingkan proyek-proyekku yang sudah kususun bahkan dari tahun sebelumnya. Masih ingat dengan Awan, Guntur, serta Sakti di Awan dan Kisahnya? Aku menggantungkan hidup mereka. Ingin sekali aku menyelesaikannya, tapi semakin dipaksa, semakin tidak mampu aku melakukannya. Pun hal yang sama terjadi pada Lio, Andin, Dilan, dan Angga pada Maliona. Juga pada Putra, Rensa, Rayan, Ghea pada Encounter. Lalu ada Yasla, Faya, dan… ah, aku bahkan lupa nama-nama mereka.

Kedua, kecepatan membacaku menurun drastis. Banyak buku yang terbengkalai dan tidak rampung dibaca karena sudah terlalu lama tidak diselesaikan. Buku yang kutamatkan tahun ini kurasa tidak sampai ada 10 buku. Parah.

Pikiranku banyak terkuras di 2016. Kalau diingat-ingat, seringkali aku merasa tertekan pada tahun ini. Entah memang karena akunya yang gampang setres atau memang yah…, beberapa hal perlu dipikirkan secara matang. Tapi, setelah melakukan kilas balik, kurasa akulah yang berlebihan. Aku masihlah pribadi yang belum matang dan masih takut dalam mengambil keputusan besar, terlebih, keputusan tersebut akan terus berlaku untuk waktuku ke depan.

Kurang lebih begitulah yang aku ingat tentang 2016. Banyak orang yang bilang bahwa 2016 adalah tahun yang buruk. Aku antara sepakat dan tidak sepakat. Karena kupikir, kita tidak bisa memukul semuanya sama rata. Di antara keburukan-keburukan yang terjadi di tahun tersebut, pastinya ada momen di mana kamu bisa tertawa lepas dan bahagia. Hanya karena ada kejadian buruk yang terjadi, bukan berarti kamu bisa melupakan momen bahagia itu begitu saja.

Beberapa hal juga muncul dalam kepalaku ketika mendengar mereka yang bilang bahwa 2016 adalah tahun yang buruk. Pikiran ngawur-ku bilang bahwa kita tidak bisa menyalahkan waktu begitu saja dan bilang bahwa ia merupakan tahun yang buruk atau tidak. Bukan waktu yang menentukan apakah kita memiliki momen yang buruk atau tidak. Waktu hanya jadi perantara. Karena bisa jadi, hal buruk tersebut pun bisa terjadi di 2017, 2018, atau tahun-tahun berikutnya. Siapa yang tahu?

Bukankah akan lebih bijak jika kita mengambil hikmah dari apa yang terjadi di 2016 dan memperbaikinya di tahun 2017?

Ah, Dian, jangan nulis doang! Lakukan juga dong!

Ehm, iya, iya. Makanya, ayo lakukan perubahan yang positif  bersama. Semoga saja di lembaran yang baru ini kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari pada tahun sebelumnya.

Aku tidak tahu apa yang kalian harapkan di tahun yang baru ini, tapi semoga harapan kalian terkabul, pun begitu pula dengan diriku.

Selamat datang 2017, semoga kamu jadi perantara yang baik.

Salamku,

Dian Aulia

01/01/2017.