Mengemas Peristiwa: Al dan Ra (1)

5f9311954af67ca524a0494749bec5ff
Pinterest

/1/

Desember, 8.

Oi, Al.

Tidak usah bingung, dibaca saja. Sudah lancar baca, kan, kamu ini? Sangat memalukan jika belum, Al. Dulu, saya sudah bisa baca bahkan sebelum masuk SD, TK barangkali. Keren sekali itu, Al. Anak-anak lain belum pada bisa. Kalau kamu ini, kamu harusnya sudah mahir sekali. Jangan mau kalah kamu sama kawan-kawanmu. Apalagi lusa umurmu sudah 10 tahun.

Al.

Keponakan saya paling cerewet. Baca baik-baik ya, ini adalah hadiah ulangtahun dari Om-mu. Si tampan Ra Abraham Sumitra. Bersyukurlah, tulisan ini bakal punya makna yang mendalam untukmu. Apalagi kamu ini masih kelas 4 SD. Sudah surat-menyurat, biarpun teknisnya kamu hanya membaca saja. Dulu, Al, jauh sebelum negara yang kamu tinggali ini merdeka, surat-menyurat merupakan hal yang sangat istimewa. Hanya orang-orang terhormat saja yang mampu melakukannya. Nenek buyutmu itu tidak bisa baca tulis, Al. Banyak sekali orang yang tidak mengenal apa itu a b c d e dan seterusnya.

Beruntunglah kamu sekarang, Al, sudah mengenal tulisan dan mampu membacanya. Jadilah seperti Raden Ajeng Kartini yang mampu berkelana dengan tulisannya. Sampai Belanda, Al, hanya lembaran kertas seperti ini! Bedanya, kertas itu ia isi dengan pikiran-pikirannya yang cerdas, Al. Dibaca banyak orang. Dipuji-dipuji. Dikagum-kagumkan. Makanya, Al, dengarlah petuah dari Om-mu ini, jika kamu ingin dikagumi banyak orang, dipuji banyak orang, jadilah sosok seperti Raden Ajeng Kartini. Sampai sekarang bahkan namanya begitu tersohor. Ah, tahu tidak kamu arti kata tersohor? Gurumu pasti jarang menggunakannya. Tersohor itu terkenal, Al. Dimana-mana orang tahu siapa dia, minimal tahu siapa namanya.

Al.

Jangan lipat dulu kertasnya, atau jangan-jangan malah diremas, lantas dilempar ke tempat sampah. Jangan, Al. Jahat sekali kamu dengan Om-mu kalau begitu. Al, keponakan saya yang sebentar lagi akan berusia 10 tahun, terimalah ini sebagai hadiah ulangtahunmu. Saat ini mungkin kamu sedang bertanya-tanya, atau malah ternyata sedang mengomel, apa yang telah saya beri padamu tidak sesuai ekspektasi. Hadiah yang saya beri padamu tidak wajar dan aneh, berbeda dari orang-orang yang biasanya akan memberi mainan atau apalah itu. Tapi, tahukah kamu, Al? Kado ini akan berguna. Percayalah.

Kalau kamu sungguh-sungguh percaya, maka surat ini memang benar adanya sangat berguna untukmu.

Al, bocah perempuan yang ingin banyak tahu, Om-mu ini, Ra Abraham Sumitra, dengan senang hati menulis surat ini untukmu. Simpan baik-baik. Besok akan datang surat yang baru. Salam dari saya, Al.