Mengemas Peristiwa: Al dan Ra (2)

6f304d746ad1c38254d6f545628bebce
Pinterest

/2/

Januari, 8

Al, maaf.

Sudah sebulan berlalu dan saya belum mengucapkan selamat ulang tahun padamu setelah tanggal 10. Karena pikir saya surat pertama itu sudah bagian dari ucapan selamat ulang tahun yang terlalu cepat diucapkan. Tak apa-apa kan, Al? Kuharap begitu. Jangan pasang wajah cemberut, kamu yang terlalu berharap pada Om-mu ini.

Keadaan yang terjadi belakangan tidak begitu mengenakkan, Al. Saya pulang kampung. Tahun baru di rumah maupun di tempat rantau saya rasa sama saja. Waktu saya habiskan untuk tidur sepanjang hari.

Bagaimana dengan liburanmu, Al? Ah iya, maaf, lupa. Titip salam untuk Om Ale, selamat merayakan natal. semoga Tuhan memberkati keluarganya selalu.

Sejujurnya, saya tidak tahu akan berbagi tulisan apa kali ini untukmu, Al. Dulu, sebelum mengeksekusi rencana untuk berbagi tulisan melalui surat denganmu, saya merasa itu akan jadi hal yang keren dan menyenangkan. Ide-ide bertebaran di kepala dan meletup-letup tidak tahan untuk dilaksanakan. Maklum, masih ada semangat baru. Namun sekarang, lihatlah, saya bahkan baru sempat menuliskannya lagi setelah satu bulan berlalu.

Oh, saya ingat. Mungkin ini bisa jadi pembelajaran untukmu, Al.

Saya sedang mampir di sebuah angkringan untuk menyesap secangkir kopi ketika peristiwa itu terjadi. Seorang wanita tengah memaki bocah sepantaranmu di depan rumahnya sendiri. Bocah itu, laki-laki, lantas menangis dan berguling di depan rumahnya setelah wanita tersebut menutup pintu dari dalam dengan debaman keras. Di samping saya, laki-laki yang berprofesi sebagai tukang becak lantas berkomentar dengan decakan dan gelengan kepala. “Wis biasa, Le. Ora usah gumun (Sudah biasa, Nak. Nggak usah heran),” ujarnya mengomentari keherananku, lantas melanjutkan santapan makan siangnya. Saya memanggilnya Mbah Kusno, usianya hampir 60 tahun tapi masih kuat untuk menarik becak setiap hari. Kami baru berkenalan hari itu. Sesekali ia kembali berkomentar di antara suapan nasinya. Katanya, orang kalau belum sanggup punya anak lebih baik ditunda dulu. Ia lantas menjelaskan bahwa wanita itu sudah hamil sehabis lulus SMP. Entah siapa bapaknya dia tidak mau bilang. Orangtuanya sendiri sudah lama berpisah dan ia tinggal bersama neneknya yang kadang suka pikun.

Sesekali saya melirik ke bocah itu, airmatanya merebak kemana-mana, rambutnya kemerahan terbakar matahari, ia masih senantiasa duduk di atas tanah lempung yang membuat bajunya semakin kotor, tangisnya kadang meraung-raung memanggil Ibunya, lantas memelan ketika mulai dirasa lelah, lalu perlahan padam ketika orang-orang mulai menaruh rasa kasihan padanya dan teman-temannya datang mengejeknya cengeng. Hampir satu jam lamanya hingga ia memutuskan untuk bangkit dan pergi entah kemana.

Melihatnya kala itu membuat saya teringat padamu, Al.

Tentu saja kalian berbeda. Setidaknya kamu masih diberi orangtua yang selalu menyiramimu dengan kasih sayang tiada tara setiap hari. Meskipun mereka bukanlah orangtua kandungmu dan memiliki perbedaan kepercayaan denganmu.

Saya mendadak ingat ketika dulu pertama kali bertemu denganmu di rumah Om Idrus waktu itu. Kamu dengan mata sembab dan wajah cemberut di hari pertama kamu resmi jadi anak angkat Om Idrus, orangtuamu saat ini. Saat itu saya sedang mampir setelah hampir dua tahun tidak pernah bertandang ke sana. Sejak saat itu pula, saya yakin setelah itu akan sering main ke rumah Om Idrus, setidaknya tahun kemarin sudah dua kali datang, kan? Semua itu karenamu, Al.

Kamu menangkap pesan apa yang sedang saya sampaikan, kan, Al?

Baiklah, biar sekalian saya jelaskan.

Saya tahu, untuk beberapa bulan pertama kamu sangat tersiksa berada di rumah Om Idrus. Semua berbeda dengan kehidupanmu sebelumnya dan serba tidak nyaman. Om Idrus seseorang yang sangat pendiam, lembut benar hatinya, tindak-tanduknya sangat matang dan bijak. Istrinya, Tante Rena adalah seorang wanita dengan kecerdasan tiada tara, hari-harinya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan sosial di luar sana. Saya rasa kamu pun sudah tahu akan hal itu, Al. Bisa dibilang, mereka adalah sepasang suami istri paling kaku yang pernah saya temui.

Namun, semenjak kedatanganmu, sedikit demi sedikit beberapa hal mulai berubah. Keluarga itu mulai menunjukkan kehangatannya sejak ada dirimu. Saya tahu, kamu masih sering mengeluh ini dan itu, banyak gerundelan dalam hati yang hanya kamu simpan sendiri atau dibagi dalam diari—itu pun kalau kamu memang sudah bisa menulis. Haha, baik-baik, tidak usah cemberut begitu, saya tahu bahwa kamu sudah pandai membaca menulis sejak sebelum datang ke rumah Om Idrus.

Saya hanya ingin mengingatkannya padamu, Al. Bahwa segala sesuatu yang tidak kita suka bukan berarti adalah hal yang buruk. Bisa jadi malah itu adalah hal yang terbaik untuk kita. Kamu bisa saja merasa bahwa hidup ini tidak adil untukmu karena sudah kehilangan orangtua di usia belia, lantas diangkat jadi anak orang yang sebelumnya tidak kamu kenal sama sekali.

Saya pun mungkin akan bertindak demikian jika berada dalam posisimu, bahkan mungkin lebih buruk. Namun, jika kita buka mata, hati, dan pikiran kita dalam satu waktu kepada dunia yang luar biasa luas ini, masalah yang kita tanggung ini hanyalah segelintir masalah yang ada. Semua orang menanggung masalahnya masing-masing. Mereka saja yang pandai menyembunyikannya dengan senyuman lebar setiap hari. Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak bisa, Al?

Sekiranya begitu lah, Al, yang ingin saya sampaikan. Sehat selalu dan baik-baik di rumah. Salam, Ra.